• 0821 4595 6878

24 Apr

Dahulu kala, di kahyangan Bhatara Guru yang menjadi penguasa tertinggi kerajaan langit memerintahkan segenap para dewa dan dewi untuk bergotong royong membangun istana baru. Siapa yang tidak mentaati perintah ini akan dipotong tangan dan kakinya. Mendengar perintah ini, Antaboga (Anta) sang dewa ular sangat cemas, karena dia tidak mempunyai tangan dan kaki. Karena sangat ketakutan, ia meminta nasehat kepada Bhatara Narada, akan tetapi Bhatara Narada pun tidak bisa menemukan cara untuk membantunya. Akhirnya Dewa Anta pun menangis.

Tetesan air mata Dewa Anta jatuh ke tanah, ajaibnya tiga tetes air mata berubah menjadi mustika yang berkilau bagai permata. Butiran itu sesungguhnya adalah telur yang mempunyai cangkang yang indah. Bhatara Narada meyarankan agar butiran mustika itu dipersembahkan kepada Bhatara Guru sebagai bentuk permohonan agar beliau memahami dan mengampuni kekurangan Dewa Anta yang tidak bisa ikut bekerja membangun istana. Dengan mengulum tiga butir telur mustika, berangkatlah Dewa Anta menuju istana. Dalam perjalanannya ke istana Dewa Anta bertemu seekor burung gagak yang meyapanya dan bertanya kemana ia hendak pergi. Karena mulutnya penuh dengan telur, ia tidak bisa menjawab pertanyaan si gagak. Sang gagak mengira Anta sombong sehingga ia amat tersinggung dan marah. Burung itupun lalu menyerang Anta, akibatnya dua butir telur mustika pecah. Dengan ketakutan Anta melata melarikan diri menyelamatkan sebutir telur yang masih tersisa.

Singkat cerita, Dewa Anta tiba di istana Bhatara Guru dan segera mempersembahkan telur mustika itu. Bhatara Guru dengan senang hati menerima telur itu dan memerintahkan kepada Anta untuk mengerami telur itu hingga menetas. Akhirnya telur itu menetas dan yang keluar adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu. Bayi itupun diangkat sebagai anak oleh Bhatara Guru dan permaisurinya. Bayi itu diberi nama Nyi Pohaci Sanghyang Sri (Dewi Sri). Seiring berjalannya waktu berlalu, Dewi Sri tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa, lemah lembut, baik hati, halus tutur kata dan budi bahasanya, memikat semua insa, bahkan Bhatara Guru pun terpikat kepada anak angkatnya itu. Diam-diam Bhatara Guru hendak mempersunting Dewi Sri menjadi istrinya. Melihat gelagat tersebut para dewa khawatir, maka para Dewa berunding mengatur siasat untuk memisahkan Bhatara Guru dengan Dewi Sri, demi menjaga keselarasan rumah tangga sang penguasa kahyangan dan menjaga kesucian Nyi Pohaci (Dewi Sri), kemudian para Dewa mengumpulkan berbagai macam racun untuk membunuh Nyi Pohaci. Akhirnya Dewi Sri pun mati keracunan dan para Dewa ketakutan karena sudah membunuh gadis suci yang tak berdosa. Maka jenazah sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan di tempat yang jauh dan tersembunyi.

Akan tetapi sesuatu yang ajaib terjadi, karena kesucian dan kebaikan budi Dewi Sri, maka dari kuburnya muncul beraneka tumbuhan yang sangat berguna bagi umat manusia. Dari kepalanya muncul pohon kelapa, dari hidung, bibir dan telinganya muncul berbagai tanaman rempah dan sayur mayur, dari rambutnya muncul rerumputan dan berbagai bunga yang cantik dan harum, dari payudaranya tumbuh tanaman buah-buahan, sedangkan dari pusarnya muncul tanaman padi. Sejak saat itulah umat manusia mulai memuja, memuliakan dan mencintai Dewi Sri yang baik hati, karena dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan.

Selain disebut sebagai Dewi Sri, dalam masyarakat Hindu di Bali beliau juga disebut sebagai Sri Sadhana atau Rambut Sadhana, Dewi Danu serta Dewa Ayu Manik Galih. Ada yang menarik dalam pemahaman umat Hindu di Bali adalah adanya perwujudan Sri Sadhana, yakni dua arca yang terbuat dari uang kepeng. Sri Sadhana sering disebut sebagai dewata Rambut Sadhana, dewata yang berambut uang (dipuja pada hari Buda Cemeng Klawu). Ada yang menafsirkan bahwa “rambut Sadhana” adalah tempat uang yang tertinggi, karena kata sadhana diartikan uang. Menghias arca dengan uang di Bali merupakan kelanjutan dari tradisi di India. Di Indonesia pada masa yang silam digunakan uang kepeng China (Chiyen), oleh karena itu kita mewarisi dewi Sri Sadhana menggunakan hiasan dan bahkan badannya terbuat dari uang kepeng. Sri Sadhana pada umumnya disungsung atau dipuja oleh kaum pedagang di pasar.

Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan merupakan sakti dari Dewa Wisnu yang sebagai dewa pemelihara dan penguasa air. Kesuburan dari segala tumbuhan atau tanah tidak dapat dipisahkan dengan adanya air sebagai faktor pendukung kesuburan tersebut. Dalam masyarakat Hindu di Bali mengenal sebutan Dewi Danu sebagai nama lain dari Dewi Sri. Dewi Danu berasal dari dua kata yaitu Dewi dan Danu. Dewi mengandung arti dewa perempuan, perempuan yang cantik dan Danu (bahasa Bali) memiliki persamaan arti dengan danau yaitu daratan yang jeluk yang digenangi air amat luas atau telaga. Jadi Dewi Danu mengandung arti dewi yang sangat dipuja atau disembah sebagai penguasa air atau danau yang bertujuan untuk memohon keselamatan, kesuburan dalam bidang pertanian. Dewi Danu merupakan manifetasi Tuhan, dalam prabawa-Nya sebagai dewi kesuburan. (tesis). Selain itu, Dewi Sri juga disebut sebagai Dewa Ayu Manik Galih, yaitu sebagai dewi yang menguasi pangan (beras atau padi) dan sebagai dewi kemakmuran. Suburnya tanaman pangan yang disebut padi itu adalah simbol kemakmuran ekonomi.

Leave a Comment