• 0821 4595 6878

10 Jan

Menjelang Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu menjalani sejumlah ritual khas yang pada hakikatnya merupakan upaya pensucian diri dan lingkungan sekitar. Pada 2-4 hari sebelum Nyepi, masyarakat menyucikan diri dan perangkat peribadahan di pura melalui Upacara Melasti. Sementara, satu hari sebelum Nyepi, dilakukan ritual Buta Yadnya (Bhuta Yajna). Buta Yadnya merupakan rangkaian upacara untuk menghalau kehadiran buta kala yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia. Dalam rangkaian Buta Yadnya, terdapat tradisi pawai ogoh-ogoh yang membuat jadi festival tahunan yang semarak dan menjadi daya tarik pariwisata.

Buta Yadnya terdiri dari dua tahapan, yaitu ritual mecaru (pecaruan) dan ngrupuk (pengerupukan). Mecaru merupakan upacara persembahan aneka sesajian (caru) kepada buta kala. Upacara ini dilakukan dari tingkatan keluarga, banjar, kecamatan, kabupaten, kota, hingga tingkat provinsi. Ngrupuk adalah ritual berkeliling pemukiman sambil membuat bunyi-bunyian disertai penebaran nasi tawur dan menyebarkan asap dupa atau obor secara beramai-ramai. Ritual ngrupuk yang biasanya dilakukan bersamaan dengan arak-arakan ogoh-ogoh bertujuan agar buta kala beserta segala unsur negatif lainnya menjauh dan tidak mengganggu kehidupan umat manusia.

Mengenal Tentang Ogoh – Ogoh

Menyambut hari suci ini, ratusan ogoh-ogoh biasanya akan diarak dalam parade untuk memeriahkan malam pangerupukan Nyepi di Bali.  Ogoh-ogoh tersebut tampak dalam berbagai bentuk dan ukuran menyerupai buta kala, atau makhluk mitologis Bali. Mereka berjejer di sepanjang jalan dan sekitarnya setelah dikeluarkan dari balai banjar, tempat pembuatan ogoh-ogoh. Karya seni ini biasanya dibuat oleh para pemuda banjar selama sebulan lebih sebelum perayaan Nyepi. Raksasa ini dibuat secara rumit dari kertas berwarna, potongan kaca, suede, perada, bambu, dan bahan lainnya. Dibuat dengan teliti, ogoh-ogoh lebih dari sekedar patung, mereka tampak hidup.

Ogoh-ogoh ini mewakili roh jahat dan ditujuan untuk menyucikan lingkungan alami dari setiap polutan spiritual yang dipancarkan dari aktivitas makhluk hidup, termasuk manusia. Nama ogoh-ogoh berasal dari Bali “ogah-ogah” yang berarti “mengguncang” dan mewakili kejahatan yang perlu dijauhkan dari manusia. Masyarakat banjar yang ikut konvoi akan mengguncang-guncangkan ogoh-ogoh agar terlihat seperti bergerak dan menari.

Setelah diarak di sekitar kota dan desa, ogoh-ogoh itu nantinya dibakar sebagai simbol pemurnian diri. Dengan membakar ogoh-ogoh, umat Hindu artinya telah siap memperingati Nyepi dalam keadaan suci.  Di hari kesunyian itu, umat diharapkan untuk diam dan melakukan refleksi diri. Orang-orang tinggal di rumah dan tidak diizinkan untuk menggunakan lampu, menyalakan api, bekerja, bepergian atau menikmati hiburan. Bahkan para turis diminta untuk tidak meninggalkan hotel mereka.

Leave a Comment