• 0821 4595 6878

18 Nov

Dr. Gede Sedana lahir dari ayah yang merupakan pengusaha ekspor sapi dan babi di Surabaya, sedangkan ibu juga seorang pedagang di Meliling dan Singaraja. Namun meskipun orangtuanya memiliki darah pengusaha, ia dan keenam saudaranya yang lain hanya satu yang menjadi wiraswasta. Seperti yang diketahui Dr. Gede Sedana aktif dalam akademis, sedangkan saudarasaudaranya yang lain, ada yang menjadi PNS, wiraswasta arsitek, asisten apoteker, notaris dan karyawan swasta.

Masa kecil Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc, MMA diwarnai dengan membantu ibu berdagang ikan asin hingga mengangkut garam, hingga duduk di bangku SMA. Sedangkan sang ayah banyak menghabiskan waktu di Surabaya sebagai pengusaha ekspor sapi dan babi. Dari membantu orangtua yang dikerjakan sejak pk 05.00 pagi, melahirkan kedisplinan dalam diri Gede Sedana. Meski awalnya dipaksa, seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa dengan rutinitas tersebut. Meski hidup dalam lingkungan yang sederhana, bukan berarti Gede Sedana tidak memikirkan pendidikannya. Ia kemudian melanjutkan sekolahnya di SD-SMP Kristen Singaraja, alhasil ia sama sekali tidak mengenal apa itu aksara Bali dan ajaranajaran agama Hindu. Namun tidak sedikit pengalaman dan pemahaman-pemahaman yang ia dapatkan selama bersekolah di lingkungan tersebut, yang mendorongnya untuk berpikiran terbuka akan perbedaan. Lulus SMP, Gede Sedana kemudian melanjutkan di SMAN 1 Singaraja dan untuk menempuh pendidikan sarjana, ia melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Udayana.

Sebelum menyandang sarjana, ia mendapat tawaran bekerja dari Bapak Dr. Sutawan, mantan rektor Unud untuk ikut dalam program yang berkaitan dengan subak. Bertujuan meningkatkan nilai kearifan lokal subak sebagai kajian untuk masa mendatang yang dikhawatirkan akan tergerus oleh modernisasi. Pada tahun 1986 hingga tahun 1991 ia kemudian didukung untuk mengikuti testing di luar negeri yang dibiayai Yayasan dari Amerika.

Tahun 1992 Gede Sedana kemudian melanjutkan kuliah di Filipina, di Universitas Ateneo de Manila hingga tahun 1994. Lulus kuliah, ia kembali ke Bali dan untuk keduanya, ia mendapat tawaran mengikuti program subak. Bersamaan dengan program tersebut, ia juga bekerja pada perusahaan internasional yang tidak jauh dari ruang lingkup pertanian, yakni berkaitan dengan kelompok-kelompok petani dan lahan kering yang dibiayai oleh Uni Eropa, berlokasi di Kabupaten Buleleng. Setelah program selesai, tahun 1995 ia kembali bekerja dengan lembaga internasional khusus untuk subak yang mencakup seluruh Bali, selama 5 tahun hingga di tahun 2000. Program itu dilaksanakan meliputi perbaikan jaringan irigasi, pembinaan kelembagaan, memperkuat kelembagaan salah satunya dengan membantu memfasilitasi awig-awig subak. Hingga di tahun 2001 Gede Sedana masih terus bergabung dalam program subak, namun di tahun 2003 berubah haluan mendapat kesempatan bekerja di Nippon Bali yang merupakan perusahaan asal Jepang yang menangani Bali Beach Conservation Project, hingga di tahun 2003. Proyekproyek itu meliputi penanganan pantai yang ada di Sanur, Nusa Dua, Kuta dan Tanah Lot. Tahun 2003 Gede Sedana memutuskan untuk mengundurkan diri, dan kembali lagi ke Singaraja, untuk menangani proyek subak petani

di lahan kering di tahun 2003 hingga Januari 2007. Tahun 2008 Gede Sedana kembali bergabung dengan proyek Amerika, yang berlokasi di kabupaten Tabanan dan Jembrana. Kurang lebih dua tahun, ia kemudian melanjutkan sekolah di Padang, Sumatera Barat, atas permintaan teman. Namun karena biaya yang dikenakan tidak sedikit, mengharuskan ia dua minggu sekali harus pulang ke Bali, ia akhirnya memutuskan berhenti kuliah dan melanjutkan di Universitas Udayana tahun 2009.

Sebuah pengalaman berharga di tahun 2012 Gede Sedana diberi kesempatan oleh pemerintah untuk berangkat ke Belanda tepatnya di Wageningen University untuk belajar agrobisnis. Di tahun 2013 ia kemudian berhasil menyelesaikan lulus S3, dan kembali bekerja di perusahaan internasional dalam program menggarap petani kopi di Flores, Malang dan Lumajang selama 2,5 tahun hingga di tahun 2017. Tahun 2018 kembali mengurus subak di kelurahan Peguyangan, Denpasar Utara.

Karena sudah beberapa kali menangani program subak, ia pun tergelitik untuk menulis buku yang bertujuan untuk menghentikan kepunahan subak dan melestarikannya budaya pertanian yang telah diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai salah satu warisan dunia. Dibalik visi misi Gede Sedana untuk mempertahankan budaya subak, ada sebuah pemikiran sederhana yang ia yakini, yakni pemujaan kepada Dewi Sri, dewi yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Bila jumlah sawah di Bali mulai berkurang atau masyarakat menjual sawah milik mereka, secara tidak langsung kepercayaan kita akan dewi kemakmuran secara perlahan akan menghilang. Namun memang tidak bisa ditampik, alih fungsi sawah tersebut pasti terjadi, jadi mulailah kita sebagai masyarakat dan pemerintah untuk menanam paham dalam diri sendiri dan generasi muda untuk mulai berpikir kreatif dengan tetap menjadikan pertanian itu menjadi usaha yang menjanjikan, melalui budidaya hidroponik, yang memakai sarana tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Selain itu, fasilitas lainnya untuk mendukung bidang pertanian meliputi infrastruktur jalan untuk transportasi dan teknologi juga wajib diperkenalkan kepada pelaku pertanian agar semakin mendukung dalam pekerjaan. Pemerintah pun wajib memfasilitasi harga sesuai standar dan bila perencanaan ini dapat berjalan, bidang pertanian dapat dimasuki semua sektor. Berbekal pengalamanpengalaman, baik di dalam maupun di luar negeri, semakin mematangkan Gede Sedana dalam dunia pendidikan. Bukan tidak mungkin Gede Sedana kemudian ditunjuk sebagai calon kandidat Rektor Universitas Dwijendra periode tahun 2019- 2023. Dan pada tanggal 7 Mei 2019, menandai era baru Universitas Dwijendra di era industri 4.0, akademisi kelahiran Singaraja, 1 Desember 1964 ini siap membawa Universitas Dwijendra yang lebih maju.

Mampu berdaya saing dengan tetap berlandaskan nilai-nilai kebudayaan dan kesusastraan sesuai dengan visi Yayasan Dwijendra, dan misi diantaranya, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu dan berlandaskan etika akademik. Ada sembilan hal yang menjadi bagian progam prioritas Gede Sedana, prioritas pertama yaitu meningkatkan citra perguruan tinggi. Kedua, meningkatkan kualitas lulusan. Ketiga, meningkatkan penelitian dan pengabdian masyarakat. Keempat, mematangkan budaya kerja dan budaya akademik. Dan kelima, meningkatkan kualitas SDM dan infrastruktur perguruan tinggi. Keenam, pembenahan tatalaksana organisasi dan manajemen. Ketujuh, penguatan sistem informasi manajemen. Kedelapan, peningkatan kerjasama dan jejaring hingga ke level internasional. Terakhir atau kesembilan peningkatan dalam hal aktivitas kemahasiswaan dan alumni. Dalam hal ini tentu dibutuhkan kerjasama yang baik tidak hanya Gede Sedana sebagai rektor, namun seluruh pihak kampus yang berkontribusi memajukan pendidikan.

Leave a Comment