• 0821 4595 6878

02 Des

‘Perang Topat’ atau secara harfiah berarti perang ketupat merupakan salah satu tradisi warisan leluhur tahunan di Lombok antara Suku Sasak yang beragama Islam dan dan suku Bali yang beragama Hindu. Konon, warisan budaya leluhur ini sudah dimulai sejak tahun 1759 dan hingga kini masih terpelihara dengan baik. Pusat prosesi acaranya pun masih tidak berubah sejak ribuan tahun yang lalu yaitu di Pura Lingsar.

Sebelum melaksanakan prosesi Perang Topat berbagai kesenian khas Suku Sasak dan Suku Bali ditampilkan. Walaupun berbeda suku dan agama, persatuan dan persaudaraan sangat terlihat pada penampilan kesenian masing-masing dan menjadi penghibur bagi masyarakat yang menyaksikan acara Perang Topat di kompleks Pura Lingsar.

Prosesi perang topat biasanya dilaksanakan setelah “rara’ kembang waru” yang berarti gugur bunga waru. Rara’ kembang waru bermakna masuknya waktu sholat ashar. Disebut demikian karena konon pada masa lalu, para leluhur menentukan waktu sholat ashar ketika bunga waru mulai gugur yang biasanya tepat pada pukul 16.00 WITA. Setelah “rara’ kembang waru”, dimulailah segala prosesi hingga perang topat dimulai.

Sebelum melaksanakan Perang Topat, umat Hindu terlebih dahulu melakukan Puja Wali atau persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya dilanjutkan dengan arakan ketupat sebesar butir telur yang dipergunakan sebagai ‘peluru’ oleh iring-iringan Batek Baris. Iringan Batek Baris ini merupakan belasan pasukan berpakaian ala kompeni Belanda, lengkap dengan senapan.

Batek Baris berada di barisan depan mengawal puluhan kaum ibu yang membawa ribuan ketupat dan sesajen dalam bentuk bunga dan buah-buahan menuju Kemalik atau tempat yang dikeramatkan oleh Suku Sasak. Kemalik yang berada di wilayah Pura Lingsar menjadi tempat proses doa sebelum memulai acara perang topat.

Setelah proses doa di Kemalik selesai, tibalah saatnya para warga saling melempar dengan menggunakan ribuan ketupat. Pada ‘perang’ ini biasanya dihiasi dengan senyum keceriaan para pelempar dan tidak ada satupun yang merasa dendam ketika terkena ‘peluru’ ketupat.

Berbagai perangkat yang harus tersedia agar Perang Topat berjalan sesuai dengan warisan leluhur yakni rombong, sesaji, kebun odek, lamak, momot, kerbau dan ketupat. Menariknya, tradisi ini tidak hanya dihadiri warga sekitar, tapi juga wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Perang yang bertujuan untuk menjaga perdamaian antar umat beragama.

Leave a Comment