• 0821 4595 6878

25 Feb

Tokoh masyarakat Kesiman yang juga caleg DPRD Kota Denpasar dapil Denpasar Timur nomor urut 8 dari PDIP, I Wayan Jelantik, menyoroti masalah pertanian di Bali. Mulai dari masalah alih fungsi lahan, pertanian organik, hingga eksistensi subak di Bali.

Saat ini jumlah lahan pertanian di Kota Denpasar hanya seluas 2.693 hektar dari 12.778 hektar luas wilayah Kota Denpasar. Jika dipresentasekan maka luas lahan pertanian yang ada yaitu 21.07 persen dari luas wilayah Kota Denpasar. Itu pun banyak aliran irigasi yang telah ditimbun sehingga petani tidak bisa lagi mengerjakan lahan pertanian.

Menurut I Wayan Jelantik, alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman di Denpasar terjadi sebagai suatu konsekuensi logis dari pertumbuhan daerah urban. Organisasi tradisional Subak yang merasakan dampak langsung dinamika ini diharapkan mampu mencari solusi agar alih fungsi lahan dapat diminimalisir.

“Untuk menghambat alih fungsi lahan diharapkan subak ini mempunyai awig-awig (aturan) tentang alih fungsi. Dalam awig-awig diatur, lahan subak bisa dijualbelikan namun tetap fungsinya sebagai lahan pertanian. Hal ini telah berlaku di subak Uma Layu, Uma Dwi dan Uma Desa,” terang  I Wayan Jelantik.

Subak-subak ini telah dijadikan subak lestari dengan penataan seperti pembuatan jogging track. Hal ini diharapkan dapat menjadi destinasi wisata sehingga membangkitkan perekonomian masyarakat petani. Selain itu berbagai upaya telah dilakukan untuk melestarikan keberadaan subak. Salah satunya dengan mengadakan lomba antar subak seperti lomba subak, lomba lelakut dan lomba pindekan serta sunari.

Perjuangkan Kesejahteraan Petani

Wayan Jelantik yang telah menjabat sebagai Pekaseh sejak tahun 1999 ini juga menyoroti soal ketersediaan pangan di masyarakat. Saat ini pangan yang beredar di pasaran masih didominasi oleh hasil pertanian konvensional yang mengandalkan pestisida dan pupuk anorganik. Padahal penggunaan bahan-bahan kimia anorganik pada tanaman pangan tidak hanya memberi dampak negatif pada  kesehatan. Melainkan juga perlahan merusak lingkungan, salah satunya menurunkan tingkat kesuburan tanah.

Sayangnya penggunaan bahan-bahan kimia anorganik pada kegiatan pertanian masih menjadi primadona di kalangan petani sebab dari segi modal hanya sedikit biaya yang perlu dikeluarkan. Apalagi dari segi masa panen, hasil pertanian modern yang mengandalkan bahan kimia dinilai lebih cepat bertumbuh. Terbukti dalam satu tahun petani dapat melaksanakan empat kali masa panen. Namun sejatinya, tanah tersebut sudah demikian rusak akibat sering terpapar produk kimia sintetik.

Menurut I Wayan Jelantik yang merupakan Ketua Kelompok Tani dan Nelayan (KTN) Kota Denpasar ini, mengubah kebiasaan para petani yang telah berlangsung puluhan tahun memang tidak mudah. Sosialisasi untuk mengembangkan pertanian organik perlu dilaksanakan secara gencar. Apalagi di era sekarang pola hidup sehat kian digalakkan sehingga permintaan produk pertanian organik akan terus meingkat.

Lewat perjuangannya di jalur politik ini, Wayan Jelantik yang juga menjabat sebagai Sekretaris PAC PDI P Denpasar Timur ini berharap ia dapat merealisasikan aspirasi para pelaku pertanian di Bali. Jika mendapat kepercayaan khususnya di Kota Denpasar, ia akan melanjutkan perjuangan selama ini berdasarkan fungsi-fungsi yang ada di legislatif seperti fungsi anggaran, pengawasan, dan lainnya.

“Fokus saya yang pertama adalah meminimalisir alih fungsi lahan pertanian. Kedua adalah mengarahkan anggaran yang selama ini digunakan untuk mensubsidi pupuk menjadi subsidi hasil pertanian,” ujar Wayan Jelantik.

Menurutnya apabila pemerintah membeli gabah dari petani sebagai bentuk subsidi, petani akan lebih termotivasi menghasilkan produk pertanian berkualitas. Keuntungan yang sudah pasti menanti di depan mata akan membuat para petani tidak lagi khawatir mengenai pasca panen dan berfokus pada kegiatan bertani. Sejalan dengan kondisi itu maka masyarakat tidak ragu menjalankan profesi sebagai petani. Jika kehidupan petani sudah sejahtera maka mereka akan tetap menjaga lahan pertanian yang ada sebagai sumber mata pencaharian yang menjanjikan. Maka tidak akan ada lagi cerita tanah persawahan yang dijual untuk dijadikan kawasan perumahan.

Leave a Comment