• 0821 4595 6878

20 Feb

Pariwisata di Bali berkembang bahkan sejak sebelum masa kemerdekaan membuka gerbang kebebasan masyarakat dari era kolonialisme. Harus diakui bahwa apa yang menarik para wisatawan itu datang ke Bali tidak lain adalah faktor budaya dan adat istiadat masyarakat Bali. Sehingga dapat dikatakan bahwa pariwisata yang berkembang di Bali berbasis budaya. Menurut Drs. I Wayan Sukana, M.Si, salah satu tokoh yang berjuang di lembaga adat, jika budaya Bali sampai sirna maka tidak hanya pariwisata saja yang runtuh melainkan juga mempengaruhi kehidupan spiritual masyarakatnya.

Pergerakan laju globalisasi yang semakin kencang dinilai turut serta ambil andil atas pergeseran nilai-nilai budaya di masyarakat. Kemajuan teknologi informasi membawa masuk budaya asing ke dalam sendi kehidupan bermasyarakat terutama generasi muda yang terpapar teknologi secara intens. Akibatnya budaya lokal dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan dengan mudah ditinggalkan. Sementara kebudayaan asing dianggap lebih atraktif dan menempati ruang dalam kehidupan generasi muda. Padahal anak-anak muda inilah yang nantinya menjadi penerima estafet pewarisan budaya di masa depan.

Bali terancam akan kehilangan keajegan budayanya memang merupakan sesuatu yang sudah diramalkan sejak puluhan tahun lalu. Ancaman yang tak terelakkan ini, menurut I Wayan Sukana dapat diminimalisir melalui penguatan desa adat. Keberadaan Desa Adat di Bali merupakan ujung tombak bagi pelestarian seni, kebudayaan, norma dan tatanan sosial lain yang berada di dalamnya. Eksistensi desa adat atau biasa disebut desa pekraman terbukti telah menjadi benteng yang melindungi kelestarian seni, budaya, sosial dan kearifan lokal Bali dari gempuran pengaruh budaya asing yang gencar masuk ke Bali.

Pengabdian

I Wayan Sukana yang telah mengabdi di masyarakat Desa Pekraman Kesiman, Denpasar Timur, selama puluhan tahun. Pria yang telah menjabat sebagai Wakil Bendesa Adat selama 15 tahun kini kembali mendapat mandat sebagai perpanjangan Bendesa Adat yang sedang sakit. Sebelumnya ia sudah aktif dalam kegiatan adat sejak usia remaja. Diawali dengan menjadi ketua organisasi kepemudaan tingkat banjar di usia 17 tahun. Ia mejadi ketua dalam periode yang cukup lama membuatnya dikenal sebagai sosok pemuda yang banyak berkontribusi di masyarakat.

Setelah memasuki usia berumah tangga, ia kemudian dipercaya sebagai Kelian Adat Banjar di tengah-tengah kesibukannya menjalankan kewajiban sebagai seorang birokrat. Lelaki yang pernah menjabat sebagai PLT Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Denpasar ini menghabiskan waktunya sepulang kerja melayani keperluan masyarakat baik untuk urusan administrasi maupun kegiatan sosial lainnya. Demi menjalankan swadharmanya ia membuka pintu rumahnya kepada masyarakat yang ingin menyampaikan keluhan atau permasalahan. Sehingga rumahnya di Jalan Randu sering terlihat ramai warga berlalu lalang bahkan sudah dianggap seperti banjar kedua.

Mengabdi di masyarakat selama puluhan tahun, bagi Wayan Sukana semata-mata merupakan panggilan hati. Kesibukannya dalam memberikan pelayanan pada masyarakat ia nikmati sebagai bagian dari perjalanan hidup. Berbagai tantangan dihadapi selama ini tidak membuatnya mundur begitu saja. Menurut pria kelahiran Denpasar, 22 Juli 1960 ini selama diberi kesempatan hidup di dunia maka berbuat sebisa mungkin untuk kepentingan sosial seluas-luasnya.

Wayan Sukana menyadari masih banyak keterbatasannya untuk membantu masyarakat. Karena itu ia akhirnya memutuskan berjuang lewat jalur politik. Keputusan ini bukan karena semata-mata ambisi merebut kekuasaan, melainkan menggunakan kewenangan untuk kepentingan masyarakat luas. Calon Legislatif DPRD Kota Denpasar nomor urut 5 dari Partai Golkar ini berharap melalui kontribusinya di legislatif nanti ia dapat membawa arah kebijakan menuju tepat sasaran.

“Pengabdian yang selama ini telah saya rintis akan saya teruskan. Aspirasi masyarakat yang selama ini telah disuarakan agar dapat segera direalisasilkan jika saya mendapat amanat di legislatif nantinya.Mudah-mudahan saya bisa dipercaya dan dipilih oleh masyarakat Denpasar,” ujar Wayan Sukana yang telah pensiun sebagai aparatur sipil negara tahun lalu tersebut.

Wayan Sukana mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan visi dan misi dalam rangka menghadapi konstetasi politik di Pileg 2019 nanti. Salah satu misinya sebagai caleg adalah melaksanakan pemberdayaan masyarakat mulai dari tingkat banjar. Sasaran kegiatan itu nantinya dari kalangan muda, usia produktif, hingga mereka yang telah lanjut usia. Program pemberdayaan masyarakat ini memiliki tujuan meningkatkan ekonomi masyarakat. Ia yakin jika krama sudah mapan dari sisi ekonomi, maka  dalam rangka ajeg Bali tidak akan sulit.

Kegiatan melibatkan masyarakat dalam hal penguatan ekonomi sejatinya sudah sering ia galakkan selama menjadi  Bendesa Adat di Kesiman. Seperti misalnya program kewirausahaan untuk perempuan yang ada di desanya. Motivasi diberikan agar semakin banyak warga Kesiman yang bergelut di bidang kewirausahaan demi mewujudkan kehidupan ekonomi yang mandiri.

Selain meningkatkan kesejahteraan di masyarakat, upaya lainnya untuk menjaga kelestarian budaya Bali menurut Sukana adalah dengan menghidupkan kembali konsep Tri Hita Karana serta menyama braya. Konsep menyama braya adalah semangat kebersamaan dan persaudaraan sedangkan konsep “tri hita karana” yakni hubungan yang harmonis sesama manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.

“Konsep-konsep luhur itu sudah saatnya dihayati kembali serta dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Bali sehari-hari,” harap Wayan Sukana

Leave a Comment