• 0821 4595 6878

15 Jun

Kehidupan tidak ubahnya sebuah ajang kompetisi di mana pemenangnya adalah individu-individu yang mau berkawan dengan kegigihan. Mereka yang telah memenangkan kompetisi hidup tentu tidak boleh terlena sebab tantangan selanjutnya adalah bagaimana mejadikan diri sebagai manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Demikian prinsip hidup seorang putra daerah Bali bernama Drs. I Wayan Gatra, M.Si. Menapaki tangga kesuksesan dari bawah tidak membuatnya egois. Justru ia ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat luas lewat sumbangsih pemikiran berdasarkan pengalaman hidupnya selama ini.

Namanya sudah tidak asing di dalam lingkungan pemerintahan Kota Denpasar. Selama puluhan tahun Drs. I Wayan Gatra, M.Si menapaki karir sebagai seorang birokrat hingga akhirnya dipercaya sebagai kepala dinas. Ia mendapat mandat memimpin Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar, rumah bagi para pelaku industri dan UMKM. Setelah 10 tahun mengabdi sebagai pemucuk pimpinan di Desperindag, tahun 2018 lalu akhirnya ia purna tugas di usianya yang ke 59 tahun.

Meski kini telah menginjak usia yang tidak muda lagi, namun semangat I Wayan Gatra tidak pernah padam. Jika dahulu saat masih berkarir di pemerintahan ia getol memperjuangkan pengembangan UMKM, saat ini pun ia masih memiliki visi yang sama. Pria kelahiran Karangasem,1 Januari 1959 ini ingin melanjutkan perjuangan yang telah dirintis sebelumnya. Namun kali ini ia memilih jalur politik sebagai jalan perjuangannya tersebut.

Menurutnya, politik merupakan sarana yang tepat dalam upaya mencapai cita-cita bangsa Indonesia yaitu kesejahteraan untuk seluruh rakyat secara adil dan merata. Hanya saja masyarakat kian apatis pada kondisi perpolitikan yang menyebabkan minimnya angka partisipasi masyarakat dalam berpolitik. Paradigma yang terjadi ini justru tidak membuat Wayan Gatra ragu melangkah di politik praktis. Ia ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa politik tidak melulu dikaitkan dengan uang.

“Maka dari itu saya berlabuh di Partai Nasdem yang mengusung tagline ‘Politik Tanpa Mahar’. Makanya sekarang pendekatan saya pada masyarakat merupakan pendekatan hati. Artinya kami menginginkan dukungan dari masyarakat yang datang dari hati nurani tanpa adanya pengaruh iming-iming berupa imbalan atau materi lainnya,” tegas Calon Legislatif DPRD Kota Denpasar tersebut.

Meski latar belakangnnya dulu pernah duduk di pemerintahan namun menurut Gatra hal ini tidak akan membuatnya segan mengkritisi pemerintahan eksekutif. Ia akan tetap melaksankan fungsi pengawasan yang seharusnya dilaksanakan. Kemudian dalam hal mengakomodir aspirasi pelaku UMKM menjadi agenda kerjanya jika duduk di legislatif nanti. Ia yakin dengan pengalamannya sejak tahun 1990 di Disperidag, dirinya lebih mengetahui aspek apa saja yang diperlukan dalam menjalankan program kerjanya tersebut.

“Fungsi itulah yang akan saya teruskan. Karena saya selama ini sudah membina pasar rakyat UMKM dan kreativitas lainnya. Dengan sentuhan itu, saya rasa saya bisa meyakinkan masyarakat Denpasar untuk meneruskan kegiatan tersebut melalui kursi legislatif. Mudah-mudahan saya bisa dipercaya dan dipilih oleh masyarakat Denpasar,” kata Wayan Gatra.

Semangat Pendidikan            

                                                                       

Sebelum dikenal sebagai salah satu putra daerah yang berhasil duduk di jabatan penting pada sistem pemerintahan, nyatanya semua itu ia dapatkan dari kerja keras dan kegigihan. I Wayan Gatra datang dari keluarga sederhana yang tinggal di Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Karangasem. Sejak kecil, Wayan Gatra sudah terbiasa bekerja dengan tujuan membantu perekonomian keluarga.

Bekerja dan mengurus kebutuhannya sendiri sejak kecil membuat Wayan Gatra bertumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Salah satu bentuk kemandiriannya adalah terbiasa mencari makan sendiri. Biasanya ia hanya menyantap pisang yang masih muda, kemudian ia bakar di atas bara. Agar makanan itu terasa nikmat ia menambahkan parutan kelapa di atasnya. Setelah makan ia tidak beristirahat melainkan melanjutkan kerjanya mengembala ternak milik orang lain.

Pengalaman baru didapat Wayan Gatra saat dirinya mulai merantau ke Denpasar. Saat itu ia melanjutkan pendidikan di SMEA Saraswati Denpasar. Selepas menamatkan sekolah di jenjang SMA, ia melanjutkan lagi ke perguruan tinggi yaitu Universitas Brawijaya Malang. Tentu menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi Gatra dan keluarganya. Betapa tidak, seorang anak dari desa akhirnya bisa menggapai mimpinya untuk meraih pendidikan yang tinggi bahkan di salah satu universitas terbaik di Indonesia.

Wayan Gatra mengaku walau pun kedua orangtuanya memiliki keterbatasan finansial namun semangat mereka dalam memberi dukungan terhadap masa depan anak-anaknya patut diapresiasi. Orangtua Gatra pun berpesan agar nantinya ia pun dapat berlaku hal yang sama kepada para buah hatinya nanti. Bahkan anak-anaknya kelak harus meraih pendidikan yang lebih tinggi lagi darinya.

Gatra pun membuktikan dirinya mampu memenuhi pesan yang disampaikan oleh orangtuanya. Keempat anaknya telah mendapatkan pendidikan terbaik dan kini sebagian besar telah berkarir sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Selanjutnya Wayan Gatra berpesan kepada generasi muda yang tengah meraih mimpi untuk tidak mudah menyerah menghadapi tantangan kehidupan. Selain itu ia ingin agar anak-anak muda dapat keluar dari zona nyaman agar dapat berkompetisi di tengah persaingan global seperti sekarang.

Leave a Comment