• 0821 4595 6878

19 Des

Terlahir ke dunia ini, harus siap dengan segala tantangan hidup. Apa pun pilihan masingmasing individu, nasib mereka ditentukan oleh tangan mereka sendiri. Salah satu pemilik usaha kuliner di Jimbaran yang bernama Baliku Café telah sukses dikelola oleh I Made Suwirya yang sebelumnya tak pernah memimpikan untuk menjadi seorang pengusaha melainkan bekerja sebagai tentara.

Perjalanan takdir manusia memang tiada yang mengetahui kecuali Sang Pencipta. Memiliki hati untuk melanjutkan profesi sebagai sorang tentara, Made Suwirya harus mengubur impiannya tersebut karena tidak direstui Sang Ibu. Ia kemudian bekerja sebagai driver pariwisata sejak tahun 1999. Pada tahun 2017 Made Suwirya tertarik untuk mencoba berbisnis, apalagi melihat potensi keindahan Pantai Jimbaran yang dimiliki desa adat Kedonganan menyiratkan keindahan. Dengan memberanikan diri untuk meminjam dana sebesar 2 miliar di LPD setempat, ia secara perlahan mulai mewujudkan bisnisnya tersebut yang sekaligus membangun perekonomian desa adat Kedonganan.

Sebelumnya kesempatan untuk membuka usaha tersebut datang dari desa adat yang memberikan masing-masing banjar sebuah lokasi untuk membangun bisnis. Masingmasing banjar tersebut terdiri atas 170 kepala keluarga dan diminta untuk mengembangkan usaha, khususnya di bidang kuliner. Setelah Made Suwirya memenangkan tender, ia pun diwajibkan untuk membayar kepada desa adat setiap lima tahunnya sebesar 100 juta rupiah.

Dalam mempertahankan sebuah usaha, tentu tidak mudah di tengah kuatnya persaingan bisnis kuliner. Namun Made Suwirya selalu berusaha untuk mengupgrade perkembangan Baliku Café, mulai dari permintaan para wisatawan perihal menu yang disajikan, dan menyajikan tari-tarian yang mampu menambah daya tarik Baliku Café di malam hari. Setelah dua tahun berdiri, Baliku Cafe bertumbuh menjadi sebuah lokasi tempat makan malam nan romantis dengan suasana pantai dan suara ombak laut. Dibuka sejak pk. 17.00 – pk.22.00 bersama 32 orang karyawannya, menyajikan berbagai hasil olahan laut, selain itu ada juga menu lainnya seperti nasi goreng, ayam goreng dan pizza.

Lahir sebagai masyarakat umat hindu di Bali, dengan segala adat istiadat dan budaya yang dimiliki tentu menjadi warisan yang membanggakan untuk masyarakat Bali sendiri. Namun, kebanggaan tersebut harus diiringi dengan kewajiban kita mempertahankan adat istiadat itu sendiri. Kerja sama antara masyarakat dan pemerintah Bali pun harus mampu mengakomodir kepentingan masyarakat khususnya generasi muda dengan konsep yang menyentuh langsung masyarakat. Dalam pariwisata Bali, masyarakat lokal yang harus memprakarsai bisnis itu sendiri. Semisal ada kekurangan dari segi finansial dan segi ilmu, tokoh masyarakat Bali harus menguasai perekonomian Bali. Dengan kebutuhan yang kompleks, pemikiran masyarakat yang plagmatis dan asal praktis, konsep untuk melestarikan budaya pun akan terkendala.

Selain itu peran penting pemerintah untuk mulai bertidak tegas dengan permainan mafia dalam mendatangkan wisatawan ke Bali harus segera ditindak lajuti. Karena satu orang wisatawan yang harusnya menghabiskan 10 juta rupiah, dapat ditarik untuk mengunjuni Bali hanya dengan 2 juta rupiah saja, sisanya mafia tersebut melakukan subsidi hilang dengan mengajak wisatawan berbelanja oleh-oleh di tempat orang asing yang tidak menjual produk oleholeh Bali. Bagi Made Suwirya sebagai pelaku pariwisata, sangsi beratlah yang dapat mengatasi permasalahan tersebut dan nilai dan atmosfir pariwisata Bali dapat berjalan sebagaimana harusnya.

 

Leave a Comment