• 0821 4595 6878

05 Okt

Menjadi seorang pemimpin bukan hanya soal memerintah suatu kelompok masyarakat. Melainkan hendaknya membawa kehidupan masyarakat yang dipimpinnya menuju gerbang kesejahteraan dan kemakmuran.

Melakoni peran sebagai pemimpin bukanlah merupakan ambisi dari seorang I Gusti Ngurah Jaya Negara. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya jika dirinya akan menjadi Wakil Wali Kota Denpasar, mendampingi Ida Bagus Rai Wijaya Mantra. Duet kepemimpinan ini dikenal solid dan terbukti telah membawa perubahan yang signifikan pada wajah ibukota Provinsi Bali tersebut.

Keberhasilannya dalam memimpin tentu telah jamak disiarkan di berbagai media. Hanya saja sedikit yang mengupas kisah perjalanan hidup Sang Wali Kota yang ternyata menyimpan nilai-nilai yang bisa diteladani oleh Generasi Muda Hindu saat ini. Khususnnya mengenai sikap kemandirian, kejujuran, dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Mengalir

Menjalani hidup dengan mengalir dan tidak neko-neko, merupakan prinsip hidup yang dipegang oleh I Gusti Ngurah Jaya Negara. Tidak pernah terbesit dalam pemikirannya ia akan duduk sebagai orang yang cukup berpengaruh. Dalam benaknya hanya ada keinginan untuk menjalani masa kini dengan sebaik-baiknya dan membiarkan hari esok menjadi sebuah misteri yang tak dapat diganggugugat. Sehingga apapun yang terjadi terhadap dirinya di masa depan adalah sebuah tabir yang menjadi urusan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di masa kecilnya, Gusti Jaya Negara hidup dan bertumbuh dalam kesederhanaan. Ayahnya berprofesi sebagai guru sedangkan ibunya berkewajiban mengurus rumah tangga. Jiwa kemandirian telah tumbuh dalam diri Gusti Jaya Negara. Hal itu terlihat pada kebiasaan masa kecilnya yang suka menjajakan dagangan berupa es lilin di sekitar lingkungan tempat tinggalnya yaitu di Desa Penatih, Denpasar. Sepasang kaki mungilnya silih berganti menapaki langkah di seputaran kampung, sembari berharap ada yang membeli es jualannya. Manakala es lilin tersebut ludes terjual terbitlah rasa senang dalam dirinya. Namun jika dagangan itu masih tersisa, ia tidak merasa kecewa. Melainkan ia menerimanya dengan hati lapang. Sebab ia memang tidak memiliki target tertentu dalam menjalankan pekerjaannya.

Ketika tiba saatnya Gusti Jaya Negara memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) ia sempat ragu akan melanjutkannya. Sebab kondisi ekonomi keluarganya dirasa kurang memungkinkan untuk menanggung beban biaya pendidikannya. Namun berkat dorongan kuat dari Sang Ayah, Gusti Ngurah Jaya mantap untuk bersekolah di SMA Negeri 1 Denpasar. Sebuah sekolah negeri yang diunggulkan hingga saat ini. Kesempatan belajar di sekolah terfavorit se-Kota Denpasar itu pergunakan sebaik-baiknya.

Setiap harinya ia berangkat sekolah dari Desa Penatih menuju wilayah Kreneng, dimana lokasi sekolahnya berada. Meski perjalanan itu cukup memakan waktu sekitar 30 menit, namun Gusti Jaya Negara tidak pernah mengeluh. Ia lakoni kesehariannya tersebut dengan tabah.

Sebagaimana masa kecilnya dahulu, Gusti Jaya Negara juga mengisi masa SMA dengan mencari pundi-pundi rejeki. Setelah pelajaran usai di sekolah, ia melakoni pekerjaannya yaitu mencatat meteran listrik dari rumah ke rumah. Bisa jadi hal tersebut menerbitkan rasa malu di hati para pemuda yang gengsi bekerja sembari bersekolah. Namun tidak bagi Gusti Jaya Negara yang justru senang bisa membantu meringankan beban ekonomi orangtuanya. Suatu sikap yang patut menjadi teladan bagi generasi di masa kini.

Terjun ke Politik

Setamatnya dari pendidikan di SMA, Gusti Jaya Negara kembali dilema. Ia tidak ingin membebani kedua orangtuanya dengan biaya kuliah yang terbilang tidak sedikit jumlahnya. Namun kembali Sang Ayah meyakinkan dirinya. Ayahnya yang sangat dicintai tersebut bersedia mendukung pendidikannya hingga Gusti Jaya Negara berhasil meraih gelar sarjana. Berkat dukungan dari Sang Ayah itulah, Gusti Jaya Negara akhirnya yakin dan percaya diri melanjutkan kuliahnya.

Sosok Sang Ayah memang menjadi panutan Gusti Jaya Negara dalam berbagai hal. Termasuk dalam dunia politik. Selain disibukkan dalam aktivitas mengajar di kelas, ayah Gusti Jaya Negara juga aktif dalam kegiatan politik. Sejak awal era tahun 80-an, Jaya Negara telah sering dilibatkan oleh ayahnya dalam dunia kepartaian. Berbagai wawasan baru tentang dunia politik didapatkan Jaya Negara dari Sang Ayah. Hingga tepat pasca reformasi tahun 1998, Gusti Jaya Negara berhasil menduduki posisi anggota dewan di legislatif Kota Denpasar.

Pertemuannya dengan Rai Mantra sebagai pasangan yang maju di Pilkada Kota Denpasar akhirnya membawa kesuksesan. Masyarakat Denpasar menaruh kepercayaan besar pada duet pasangan ini sehingga pada pemilihan kepala daerah tahun 2010 menjadi awal masa kepemimpinan mereka. Kemudian di tahun 2015 masyarakat lagi-lagi memberikan amanat kepada Gusti Jaya Negara dan Rai Mantra untuk menahkodai pemerintahan Kota Denpasar hingga tahun 2020 yang akan datang. Keberhasilan ini tentu disambut Gusti Jaya Negara dengan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta.

Akulturasi di Tengah Globalisasi

Sebagai ibukota Provinsi Bali, Kota Denpasar telah ditetapkan memiliki visi Kota Berwawasan Budaya. Untuk mencapainya diperlukan partisipasi dan dukungan komponen masyarakat kota metropolis ini. Namun upaya mempertahankan dan melestarikan seni budaya tidaklah mudah di tengah serbuan budaya global di Pulau Dewata ini. Gusti Jaya Negara menjelaskan bahwa dinamika adat dan budaya di Bali umumnya dan di Kota Denpasar khususnya juga dipengaruhi oleh arus globalisasi yang terjadi saat ini. Perkembangan sektor pariwisata saat ini membawa pengaruh budaya asing. Tidak sedikit budaya dari luar tersebut berakulturasi dengan budaya lokal kita.

Salah satu dinamika adat dan budaya yang kian terasa adalah berubahnya sistem masyarakat yang mulai mengarah ke pola-pola pragmatis. Kesibukan kerja di bidang formal membuat masyarakat harus bisa menyesuaikan diri lebih keras sehingga kewajiban mereka tetap berjalan semestinya sementara di sisi lain adat warisan leluhur juga tetap berjalan selaras.

Meski demikian Gusti Jaya Negara meyakini bahwa Bali memiliki benteng budaya yang cukup kuat. Salah satunya yaitu keberadaan Desa Pekraman yang merupakan warisan budaya leluhur yang masih mengikat kepentingan umat di Bali. Meskipun pergeseran budaya itu memang menjadi keniscayaan, namun setidaknya dapat diminimalisir oleh keberadaan komunitas masyarakat tersebut.

Gusti Jaya Negara menambahkan bahwa tidak semua akulturasi budaya mendatangkan dampak negatif bagi kehidupan sosial budaya masyarakat Bali. Kemajuan teknologi yang melanda seluruh belahan dunia termasuk Bali membawa kemanfaatan bagi upaya pelestarian budaya. Gusti Jaya Negara mencontohkan program digitalisasi lontar salah satunya. Lontar merupakan bagian dari khasanah budaya Bali di bidang sastra. Bila sebelumnya orang menuliskan karya sastra Bali di atas lembaran daun lontar, kini masyarakat bisa membuat versi digitalnya di komputer. Kemajuan ini tentu membawa dampak baik dalam upaya mengenalkan karya sastra Bali kepada generasi muda yang memang akrab dengan dunia digital.

Leave a Comment