• 0821 4595 6878

26 Des

Berkarir dalam dunia pariwisata sudah menjadi pilihan Made Yadnya sejak tahun 1980, yang berawal di Hotel Oberoi. Kemudian berpindah dari hotel satu ke hotel lainnya, demi semakin mematangkan dari karirnya di dunia pariwisata. Pada November 2016 ia dipercaya untuk memegang posisi Direktur di Puri Saron Group sampai bulan November 2018.

Tak ingin terus menggantungkan hidupnya pada perusahaan yang nyatanya bukan miliknya. Ia mulai ancang-ancang untuk membuka usaha sendiri, awalnya I Made Yadnya, membuka dua rumah kostkostan. Dari usaha awal ini, kerja kerasnya berbuah hasil dengan mendirikan Anumana Bay View Jimbaran dengan konsep brand home boutique yang berlokasi dekat dengan Garuda Wisnu Kencana yang berkembang hingga saat ini. Kini Made Yadnya sukses bertransformasi sebagai seorang pengusaha, namun tanpa melupakan swadharmanya sebagai umat Hindu salah satunya hidup dalam kesedehanaan. Kesederhanaan tersebut sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil di mana orangtua berlatar pekerjaan sebagai nelayan. Tak hanya kesederhanaan, belajar kerja keras dan disiplin untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, sudah menjadi pengajaran sehari-hari dari orangtua yang ia dapatkan sejak kecil.

Selain fokusnya dalam pekerjaan yang ia geluti, Made Yadnya meyakini kesuksesannya bersumber dari kekuatan doa. Untuk menghantarkan doa kepada Sang Pencipta, dalam ajaran Hindu, diadakan upacara yadnya yang dibedakan tingkatan mulai dari nista (sederhana), madya (menengah) dan utama (besar). Pembagian tersebut telah ditetapkan guna mempermudah masyarakat melaksanakan upacara yang disesuaikan dengan keadaan ekonomi.

Namun tidak sedikit masyarakat yang belum memiliki pengetahuan dan spiritual yang cukup untuk memahami tingkatan-tingkatan ini. Ada yang meminjam uang di bank bahkan menjual sawah untuk melaksanakan upacara, dengan alasan bahwa itu demi prestise di mata masyarakat. Padahal hal yang terpenting dalam yadnya adalah keikhlasan daripada mempersembahkan upacara tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan peran seorang sulinggih yang dapat memberi solusi, atau belajar dari sumber sumber yang terpercaya seperti buku-buku agama, bhagawad gita, dan lontarlontar, agar jangan sampai ada umat merasakan terberatkan dalam melaksanakan yadnya.

Berbicara pendidikan agama untuk generasi muda masa kini, salah satunya berbicara budaya membaca dan menulis lontar, yang merupakan warisan tradisi Bali, erat kaitannya dengan sistem kepercayaan dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. Lontar ini selain disucikan tetapi juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari hari. Membaca lontar di “zaman now” memang sudah jelas berbeda dengan zaman dulu. Bila dulu membuka lontar diiringi dengen sarana banten, sekarang dapat belajar lewat internet. Terpenting adalah generasi muda ada keinginan untuk mempelajari aksara latin, setelah itu mereka akan tertarik untuk membaca aksara Bali dalam lontar. Bila masyarakat dan pemerintah terus berkomitmen untuk meningkatkan kecintaan akan seni dan budaya pada generasi muda, taksu Bali tak akan terus berkiprah di internasional.

Leave a Comment