• 0821 4595 6878

10 Mar

Pengalaman adalah guru yang berharga. Pepatah klasik itu nampaknya sangat berelasi dengan kisah perjalanan hidup seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Denpasar, I Ketut Suteja Kumara, ST. Pengalaman pahit di masa lampau justru dijadikannya sebagai pelecut semangat untuk merubah keadaan di masa kini demi masa depan yang gemilang.

Kehidupan selalu lekat dengan permasalahan dan manusia dituntut untuk berusaha sekuat tenaga menyelesaikannya. Terkadang manusia menghadapi problematika yang serupa dengan individu lainnya. Namun yang membedakan adalah strategi masing-masing dalam menemukan solusi dari permasalahan. Bagi seorang I Ketut Suteja Kumara, ST, tiada persoalan di dunia ini yang tidak dapat diselesaikan. Sebab menurutnya, Ida Sang Hyang Widi menciptakan tantangan kehidupan lengkap beserta jalan keluarnya.

Berjuang

Dilahirkan di tengah keluarga yang jauh dari kata sejahtera, membuat Ketut Suteja bertumbuh menjadi pribadi yang tegar sekaligus mandiri. Tegar karena terbiasa menghadapi kegetiran dalam hidup dan mandiri karena terbiasa bekerja membantu ekonomi keluarga. Bahkan ia telah terbiasa mengumpulkan pundi-pundi rejeki sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Sekilas tentang latar belakang pria kelahiran Denpasar, 2 Januari 1968 tersebut. Ketut Suteja pernah menghadapi ujian hidup yang cukup berat di usia masih sangat kecil. Tatkala dirinya baru genap berusia 1 tahun, ayah tercinta mengalami kecelakan saat mengendarai sepeda motor. Sejak peristiwa tersebut, ayahnya mengalami luka fisik dan psikis yang harus ditanggung seumur hidup.

Ketut Suteja kecil akhirnya terbiasa tumbuh tanpa tuntunan dari figur seorang ayah. Meski begitu ia tetap bertekad maju untuk menggapai mimpi-mimpinya, termasuk impian merubah kondisi hidup mejadi lebih baik. Demi mewujudkan asa ia pun harus terjun langsung membantu ibunya yang kini menjadi sosok orangtua tunggal. Selain itu ada pula Sang Nenek yang turut mengasuh dan mendidik karakternya hingga menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang.

Berbagai macam kegiatan dilakukan Ketut Suteja demi menghasilkan uang, salah satunya dengan berjualan es lilin. Sepulang sekolah ia mengambil barang dagangan di salah satu supplier di desa tempat tinggalnya. Setelah itu ia berkeliling menjajakan es tersebut. Tak banyak memang uang yang dihasilkan, semata-mata untuk meringankan beban biaya pendidikannya.

Suatu ketika ia berjualan di pinggir lapangan bola. Pada saat itu berlangsung sebuah pertandingan yang ditonton cukup banyak orang. Tiba-tiba saja bola datang ke arahnya dan menubruk wadah tempat menampung jualan esnya. Tak disangka wadah itu pecah, membuat Ketut Suteja panik. Bagaimana tidak, ia tidak hanya harus mengganti es-es jualannya itu tapi juga mengganti tempatnya.

Untung saja, Sang Nenek memahami keadaan Ketut kemudian memberikan sejumlah uang untuk mengganti kerugian yang diminta supplier. Meski neneknya itu dikenal tegas dalam mendidik anak dan cucunya, namun jiwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah lepas dari sosok neneknya tersebut.

“Bagi saya, ibu dan nenek merupakan dua srikandi panutan dalam hidup saya,” ujar Ketut dengan perasaan bangga.

Membantu Masyarakat

Mengingat kejadian di masa kecilnya, terutama soal perjuangan keluarganya untuk menghadapi tantangan kehidupan, selalu membuat Ketut berkaca-kaca. Banyak hal yang tidak dapat ia nikmati dulu karena keterbatasan kondisi finansial. Namun satu hal yang selalu menjadi prioritasnya yaitu pendidikan. Mengenai hal ini, Ketut selalu berfokus agar bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Tanpa motivasi yang kuat, mustahil rasanya ia dapat mencapai poin kehidupan seperti sekarang. Di tengah kondisi kekurangan, nyatanya ia mampu menamatkan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Lulusan Fakultas Teknik ini menyadari bahwa di luar sana masih banyak orang yang tidak memiliki kesempatan yang sama dalam hal mengakses pendidikan. Tidak hanya itu, kesehatan dan kesejahteraan sosial merupakan permasalahan yang masih mendominasi negeri ini.

Karena itu, suami dari Ni Luh Ani Agustini ingin mengisi kehidupan ini dengan perbuatan-perbuatan yang bertujuan membantu orang lain. Namun ia sadar bahwa kemampuan yang dimiliki tidak dapat menolong semua orang sekaligus. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan masuk ke dalam sistem pemerintahan, di mana segala kebijakan bersumber dari sana.

Partai Politik kemudian menjadi kendaraan Ketut Suteja untuk mencapai cita-cita bersama. Melalui wadah ini, ia akhirnya berkesempatan berjuang mewujudkan aspirasi masyarakat khususnya di Kota Denpasar. Pembangunan secara merata di segala lini kehidupan menjadi fokusnya dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat di ibukota.

Menurut Ketut Suteja, permasalahan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Suka tidak suka memang harus dihadapi, yaitu dengan menggunakan kemampuan yang dimiliki semaksimal mungkin.

Leave a Comment