• 0821 4595 6878

06 Sep

Pada zaman abad ke-8 hingga ke-16 pengaruh gaya arsitektur Hindu dan Budha klasik banyak dijumpai pada bangun candi-candi yang megah di Indonesia khususnya di tanah Jawa. Secara tidak langsung beberapa bangunan paviliun/ bale yang banyak terdapat pada bangunan tradisional Bali memiliki unsur yang unik berupa pahatan yang rumit dan detail sebagai perpaduan antara pengaruh Hindu-Budha dan masyarakat Jawa Aboriginal yang berdiam di Bali kala itu.

Prinsip Kaja-Kelod, adalah salah satu pedoman utama bagi masa-masa awal arsitektur Bali. Kaja memaknai menghadap dimana gunung berada, sedangkan Kelod memaknai menghadap dimana laut berada. Konsep mistis kaja-kelod ini sering kali dipakai pada perencanaan penempatan bangunan rumah atau pura desa. Bangunan yang bersifat suci diletakkan di bagian kaja, sedangkan hal-hal yang biasa diletakkan di bagian kelod. Pura keluarga biasanya ditempatkan di bagian kaja, sedangkan rumah tempat tinggal di bagian kelod. Dalam konteks pura desa yang bersifat kahyangan diletakkan di arah kaja sedangkan pada arah laut diletakkan Pura Dalem (pura yang berhubungan dengan kuburan dan kematian).

Perkembangan Desain Arsitektur di Bali

Di abad ke-18 dan ke-19, Arsitektur Bali berada pada masa keemasannya, dengan tetap menjaga keluhuran pedoman dalam berseni-bangun ruang yang telah diajarkan oleh para leluhur, para ahli bangunan Bali mulai menunjukkan dinamismenya dalam setiap desain yang dibuat dengan memberikan sentuhan modern namun tetap menyiratkan nilai-nilai keaslian bangunan Bali.

Hal menarik yang dapat masih dapat ditelusuri jejak sejarahnya hingga kini adalah pengaruh gaya arsitektur Eropa yang sempat hadir dalam seni bangun Bali. Di tahun 40an, beberapa daerah di Bali Utara seperti Bungkulan terdapat beberapa rumah penduduk yang berbentuk menyerupai mansion kecil meten. Lengkungan khas style Roma juga dapat ditemukan di beberapa rumah kaum elit waktu itu, istana dan beberapa hotel.

Memasuki abad ke-20 setelah bangsa Indonesia merdeka dari masa penjajahan pengaruh gaya bangunan Belanda dan Jepang tetap ada di Bali, Rumah Panglima dan Istana Presiden Tampak Siring adalah 2 contoh jenius arsitektur modern di Bali.

Ada satu hal yang cukup menarik untuk diketahui, pemahaman dasar Bali tentang sebuah bangunan sebaiknya tidak melebihi tinggi pohon kelapa (15 meter), namun sebelum disahkan dalam peraturan tetap yang resmi, Hotel bali Beach (kini berubah menjadi Grand Inna Sanur) sudah mulai dibangun dan dirintis langsung oleh presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.

Hingga kini seni arsitektur Bali terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, pengaruh dari berbagai belahan dunia dapat kita jumpai pada banyak hotel, restoran dan tempat umum lainnya. Namun yang pasti semua perbedaan yang ada seakan menyatu menjadi sebuah harmoni di pulau yang ajaib ini.

Leave a Comment