• 0821 4595 6878

12 Des

Bukan rahasia lagi adat dan budaya Bali menjadi pusat perhatian wisatawan mancanegara yang memiliki nilai adi luhung. Namun seiring perkembangan zaman, terjadi pergeseran pola dan gaya hidup masyarakat yang sebagian besar tersita waktunya dengan bekerja. Terkikisnya waktu inilah yang menimbulkan pola masyrakat yang konsumtif, kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh para pendatang, semua kebutuhan ritual orang Bali disuplai dari luar Pulau Bali, dari Janur, bunga, buah sampai dengan telur bebek.

I Made Kayuk Suryana telah terjun dalam dunia pariwisata sejak usia 20 tahun, dengan membangun sebuah bisnis wisata bahari bernama Wibisana Marine Adventures. Dengan usaha dan kerja keras, pasang surutnya air laut tak membuatnya putus asa untuk memperkenalkan eloknya panorama pantai maupun dasar laut Pulau Dewata, khususnya Tanjung Benoa.

Berawal dari lima orang karyawan, kini Wibisana Marine Adventures telah memiliki kurang lebih 85 orang, dimana 20%nya merupakan pendatang. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat lokal sudah memiliki kesibukan dalam usaha masing-masing. Jauh berbeda dengan masa kecil Made Suryana, masyarakatnya masih saling beriringan dan saling bergotong-royong baik dalam kegiatan sosial maupun upacara keagamaan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali.

Dahulu dalam melaksanakan upacara, masyarakat dapat mengumpulkan sarana upacara yang masih mudah dijumpai di alam sekitar, baik untuk upacara dalam keluarga maupun di desa. Tidak hanya bahan yang didapatkan dengan mudah, tenaga dan materi pun disumbangkan dari masyarakat sekitar dengan penuh rasa kebersamaan dan kegotongroyongan antara satu sama lain. Namun semenjak pariwisata semakin ramai dan berbagai akomodasi penginapan bermunculan, lahan-lahan pun semakin menipis untuk ditanami pohon kelapa untuk janur, atau berbagai jenis bunga untuk sarana upacara.

Pria asli Benoa ini pun, menambahkan bila dulu masyarakat tinggal melaksanakan upacara karena ketersediaan bahan yang telah tersedia. Sekarang, karena kurangnya bahan dan sarana, upacara agama tersebut terpaksa yang harus menunggu. Biaya yang digunakan pun tak bisa diminimalisir karena keterbatasan waktu dan tenaga. Dalam hal ini pun dibutuhkan untuk menghimbau kepada masyarakat agar lebih mengenal adat dan budaya sendiri. Di masa yang serba konsumtif, halhal yang berkaitan dengan adat istiadat dalam upacara agama harus disosialisasikan kembali oleh pemerintah, maupun tokoh masyarakat. Agar apa yang telah menjadi warisan yang diturunkan secara turun temurun, dapat diikuti oleh anak cucu kita di masa depan.

Leave a Comment