• 0821 4595 6878

09 Sep

Setiap orang memiliki parameter masing-masing mengenai nilai sebuah kesuksesan. Ada yang mempunyai pemahaman bahwa kesuksesan adalah saat mampu meraih materi keduniawian tak terhitung jumlahnya. Ada juga yang beranggapan bahwa kesuksesan dilihat dari level karir sesorang. Namun bagi seorang I Nyoman Gede Astina arti dari kesuksesan ialah mampu bermanfaat bagi orang banyak. Setelah berhasil menebus impian pergi ke luar negeri, ia juga membantu orang lain untuk mewujudkan mimpi yang serupa. Bagaimana ia melakukannya? Simak penggalan kisah kehidupannya berikut.

Nama Sekolah Perhotelan Bali, yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI-SPB) telah demikian populer di kalangan insan pendidikan pariwisata di Pulau Dewata. Kehadirannya sebagai lembaga pendidikan khusus mencetak tenaga kerja handal di bidang pariwisata bak sebuah oase di gurun pasir. Bagaimana tidak. Di saat pariwisata tengah mengalami masa kejayaan akhir abad 20, kebutuhan terhadap tenaga kerja pariwisata kian meningkat. Namun di sisi lain, sekolah tinggi yang berfokus pada pendidikan pariwisata hanya ada satu, yakni BPLP yang saat ini bernama STP Nusa Dua Bali.

Di balik perjalanan STPBI-SPB sebagai sekolah tinggi pariwisata, terdapat seorang sosok pendidik yang memiliki andil besar di dalamnya. Ialah I Nyoman Gede Astina. Ia memiliki visi dan misi ke depan mengenai pendidikan pariwisata Bali. Di tahun 2000, saat dirinya masih berstatus sebagai dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali, ia melihat kecenderungan generasi muda memilih pariwisata sebagai bidang karir unggulan. Sehingga animo lulusan SMA dan SMK di Bali untuk melanjutkan pendidikan ke lembaga pendidikan pariwisata kian membludak. Sayangnya, STP Nusa Dua sebagai satu-satunya sekolah tinggi pariwisata pada saat itu tidak dapat menampung lebih banyak siswa lagi. Sehingga banyak calon peserta didik yang harus pulang membawa kekecewaan karena tidak lolos proses seleksi.

Fenomena ini tentu menyisakan kegelisahan pada diri seorang pengajar seperti Astina. Ia merasa betapa banyak pelajar yang kemudian harus menggantungkan cita-citanya di sektor kepariwisataan karena tidak memperoleh bangku di sekolah kepariwisataan yang berkualitas seperti STP Nusa Dua yang diunggulkan sebagai sekolah pariwisata. Sejak saat itulah i nyoman gede Astina mulai bermimpi membuat sekolah serupa STP yang dapat menampung lebih banyak siswa.

Pelan-pelan Astina mulai menemukan rekan-rekan yang memiliki visi dan misi yang serupa dengannya. I Nyoman Gede Astina dan para dosen yang telah mendirikan Yayasan Dharma Widya Ulangun pada tanggal 27 Maret 2000 akhirnya berhasil mengibarkan bendera berdirinya Sekolah Perhotelan Bali yang dikelola oleh yayasan dengan menampung siswa perdananya sejumlah 180 orang. Meskipun pada mula pendiriannya masih menumpang gedung di SMK 5 Denpasar. Namun bara semangat untuk menciptakan lembaga pendidikan pariwisata baru menutupi segala kekurangan yang ada.

Kini STPBI-SPB telah menempati gedung sendiri yang berlokasi di Kawasan Gatot Subroto, Denpasar Timur. Selain itu sekolah pariwisata ini memiliki sarana dan prasarana yang lengkap untuk kegiatan belajar teori maupun praktek untuk para peserta didik. Mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) atau lulusan yang memiliki kompetensi kerja sesuai dengan tuntutan pasar kerja (industri pariwisata global) merupakan salah satu target yang ingin dicapai dalam melaksanakan pelatihan di Sekolah Perhotelan Bali. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan berbasis kompetensi (Competency Based Training) yang diterapkan oleh lembaga pelatihan kerja STPBI-SPB. Lulusan dari STPBI-SPB akan menerima sebuah sertifikat lulus pelatihan dari lembaga pelatihan kerja Sekolah Perhotelan Bali dan sebuah sertifikat kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi Sekolah Perhotelan Bali (LSP SPB).

Mewujudkan Mimpi Orang lain

I Nyoman Gede Astina tidak hanya sukses sebagai founder dari satu lembaga pendidikan saja. Ia juga berhasil membidangi lembaga pendidikan lainnya di bidang kesehatan yakni STIKES Wira Medika PPNI-Bali dan yang teranyar yaitu Institut Ilmu Kesehatan Bali. Apa yang telah diraih I Nyoman Gede Astina tidak lain merupakan hasil dari proses yang tidak instan. Diperlukan kerja keras dan ketekunan dalam upaya mewujudkan sebuah impian, demikian pesan kehidupan yang dapat kita petik dari kisah perjalanan hidup seorang I Nyoman Gede Astina.

Sejatinya ia seorang putra dari perwira polisi yaitu I Made Meregeg yang memperistri Ni Luh Ribeg. Sang Ayah bertugas di Tabanan berinisiatif menitipkan I Nyoman Gede Astina dan kakak-kakaknya untuk tinggal di rumah Sang Nenek di Desa Tonja, Denpasar. Kakek dan nenek yang merupakan pemangku atau pemimpin upacara dalam Hindu Bali, memberikan pengaruh yang besar dalam pembentukan karakter seorang I Nyoman Gede Astina.

Sebagai seseorang yang dibesarkan di lingkungan spiritualis, I Nyoman Gede Astina selalu mengupayakan pendekatan diri dengan Sang Maha Pencipta. Bahkan di saat ia berada di posisi teratas tangga kesuksesan, I Nyoman Gede Astina tidak pernah lupa mengenai kewajibannya sebagai umat beragama. Selalu menjalankan ajaran Dharma merupakan cara yang dilakukan Gede Astina untuk menunjukkan rasa syukur atas segala anugrah yang dilimpahkan kepadanya.

Selain mengucap syukur melalui bakti yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Gede Astina juga berkeinginan membantu orang lain untuk mewujudkan segala impian mereka. Setelah berhasil mencetak tenaga pariwisata yang tidak sedikit bekerja ke luar negeri, I Nyoman Gede Astina juga memiliki program peningkatan kesejahteraan petani miskin. Ia mengakomodir para petani dari kalangan ekonomi terbawah untuk bisa bekerja di luar negeri. Oleh Astina, para petani ini diberi pelatihan khusus sampai akhirnya dianggap cakap. Kemudian para petani ini bisa berangkat ke luar negeri dan bekerja sebagai pemetik buah kiwi di New Zealand.

Berkat inisiatifnya, tak sedikit para petani itu yang kehidupannya berubah 180 derajat. Mereka yang dulunya hidup termajinalkan kini telah mampu mendulang kesejahteraan lebih dari harapan mereka sebelumnya. Program yang telah dimulai dari tahun 2010 ini awalnya hanya berfokus pada petani di daerah Gitgit, kini telah memperluas area jangkauan hingga seluruh Bali.

Mewujudkan harapan orang lain yang ingin merubah nasib dengan ke luar negeri terinspirasi dari mimpi seorang I Nyoman Gede Astina yang juga pernah ingin menengok rupa belahan dunia lainnya. Mimpi itu pun terwujud di saat ia mendapat kesempatan mengikuti pendidikan summer course di Amsterdam Belanda pada tahun 1985.

“Impian menjadi modal utama dalam mencapai sesuatu, yang harus diraih dan target dalam kehidupan,” pesan I Nyoman Gede Astina. Menurutnya, jika hidup itu tidak memiliki impian, tanpa sasaran atau target, maka hidup menjadi sia-sia.

Selain sukses dalam karirnya sebagai pendidik, I Nyoman Gede Astina juga berhasil dalam bisnis yang telah digelutinya sejak lama. Ia berhasil mengembangkan beberapa restoran, salah satunya Warung Ongan yang terletak Jl. Noja Saraswati No. 12A, Denpasar, Bali. Kini I Nyoman Gede Astina tinggal menikmati buah dari kerja kerasnya selama ini bersama istri tercinta, istri tercinta Made Ardani, S.S., beserta anak dan cucu mereka.

Leave a Comment