• 0821 4595 6878

05 Feb

Menjadi figur yang dipercaya masyarakat luas sebagai perpanjangan tangan di pemerintahan tentunya tidak mudah. Tantangan yang dihadapi bukan hanya soal bagaimana mewujudkan aspirasi masyarakat dalam wujud nyata pembangunan. Melainkan juga tentang mewujudkan harapan tersebut tanpa berbenturan dengan adat dan tradisi yang telah digariskan sejak dulu. Karena itu dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil masyarakat khususnya di Denpasar, I Wayan Suadi Putra, ST. berpegang pada falsafah kerja ala seorang Undagi. Yakni bekerja untuk pembangunan berlandaskan pemahaman senibudayaadat dan agama.

Dahulu, bila orang Bali ingin membangun bangunan pastilah mencari sosok seorang Undagi. Pada dasarnya Undagi bukan hanya sekedar arsitek di era masyarakat tradisional. Di Bali sendiri, seorang Undagi pada dasarnya adalah manusia utama yang diyakini mampu memahami seni, komposisi, teknis, sekaligus tradisi adat atau awig-awig. Dalam mengawali setiap aktivitas kerjanya, senantiasa dimulai dengan menjalin komunikasi dengan alam untuk menjaga keseimbangan harmonisasi.

Kemampuan sebagai seorang Undagi yang dimiliki oleh Sang Kakek dan ayahnya menjadi inspirasi I Wayan Suadi Putra, ST. dalam berkarya. Ia mengadopsi falsafah kerja undagi dalam upaya membangun daerah sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Denpasar.

Tri Hita Karana

Pembangunan di tingkat daerah merupakan proses sistematis yang dinilai menjadi solusi memajukan kehidupan masyarakat secara signifikan. Apalagi dengan adanya kewenangan daerah mengelola anggaran untuk membangun wilayah masing-masing sesuai dengan karakteristik daerahnya. Di Bali sendiri, pembangunan yang dilakukan hendaknya mengikuti awig-awig yang berlaku. Yakni tidak melanggar adat dan tradisi serta tidak merusak keseimbangan alam.

Hal ini pula yang disadari oleh Wayan Suadi Putra tatkala menjalankan fungsi sebagai legislator. Ia berfokus pada pembangunan yang berlandaskan kearifan lokal yakni ajaran Tri Hita Karana. Menurutnya pembangunan hendaknya tidak merusak lingkungan dan justru pembangunan yang ada hendaknya turut serta memajukan lingkungan hidup.

Seperti ketika ia mejadi Ketua Pansus XV yang berwenang menggodok Ranperda tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Salah satu usulnya yakni agar pemerintah mengijinkan masyarakat menggarap lahan pertanian pangan berkelanjutan, tentunya dengan ditanami berbagai tanaman pangan. Sedangkan pajaknya tak dibebankan kepada masyarakat.

Hal ini tidak hanya dapat meningkatkan taraf perokonomian masyarakat. Juga sekaligus memperluas area Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Denpasar yang dinilai masih kurang. Denpasar hanya memiliki RTH seluas 16,23 persen dari yang seharusnya 20 persen.

Masih menyoal pertanian di Bali, dalam upayanya mencegah alih fungsi lahan pertanian Wayan Suadi juga meningkatkan peran petani. Hal ini dilakukan dengan menghidupkan kembali kelompok-kelompok tani. Salah satu yang menurutnya yang masih eksis hingga sekarang adalah kelompok tani Anggrek yang aktif di Desa Sidakarya, Denpasar Selatan. Menurutnya peluang di bidang budidaya tanaman bunga ini sangat menjanjikan. Didukung pula oleh potensi yang ada di daerah Sidakarya.

Seni, Budaya, dan Agama

Tak hanya mengutamakan pembangunan secara fisik, Wayan Suadi juga peduli terhadap pembangunan SDM yang ada di masyarakat. Menurutnya pola pendidikan di masa sekarang hendaknya melibatkan aspek pelestarian seni, budaya, dan berlandaskan ajaran agama. Sehingga SDM yang menjadi output bidang pendidikan tidak hanya memiliki skill akademis tapi juga keasadaran untuk menjaga eksistensi seni dan budaya.

Sebagai pelaku kegiatan seni, Wayan Suadi juga menghidupkan kegiatan seni khususnya di kalangan anak muda. Hal ini diaplikasikannya di tingkat banjar tempat tinggalnya yaitu dengan mengadakan pelatihan seni tari dan tabuh untuk anak-anak dan remaja. Aktivitas ini tentunya menjadi wadah positif bagi generasi muda yang siap menjadi pewaris kebudayaan Bali di masa yang akan datang.

Setelah memiliki softskill yang mumpuni dan memiliki jiwa seni dalam diri, yang terpenting bagi Wayan Suadi adalah selalu berpegang pada etika beragama. Membentuk generasi muda yang tangguh dalam kompetisi global serta dibarengi dengan pemahaman tattwa dan susila tentunya menjadi visi ke depan masyarakat Bali saat ini. Karena itu, Wayan Suadi mengajak seluruh komponen masyarakat khususnya para orangtua untuk menumbuhkan nilai-nilai religius dalam diri insan muda sejalan dengan pendidikan yang mereka dapatkan di lembaga formal.

Leave a Comment