• 0821 4595 6878

05 Jun

Polemik yang kerap dikaitkan dengan konflik beragama kian menghantui kedamaian yang ada di masyarakat. Padahal keberagaman dalam masyarakat kita seyogyanya sudah eksis sejak di masa lampau. Namun toleransi antar agama itu dengan cepat terdegradasi sebab ditengarai oleh kepentingan pribadi maupun golongan tertentu. Lantas, bagaimanakah masyarakat Hindu di Bali menanggapi konflik yang terjadi, baik sebagai komunitas masyarakat yang minoritas sekaligus mayoritas?

Pada dasarnya semua ajaran agama di dunia memiliki visi yang sama, yakni menuntun umatnya untuk berperilaku yang baik. Demikian perspektif beragama oleh I Gede Adnyana, sosok Tokoh Masyarakat yang berperan aktif di lingkungan Kota Denpasar. Khususnya dalam agama Hindu, terdapat sub ajaran Tri Kaya Parisudha yang telah mengatur secara gamblang mengenai perilaku manusia yang sejati.

“Dalam ajaran Tri Kaya Parisudha, kita dituntun untuk berpikir positif dan bertutur kata yang baik. Jika memulai hal yang baik dari dua aspek perilaku ini, maka aspek selanjutnya yaitu perbuatan, pun turut menjadi hal yang baik,” ujar Adnyana.

Menurutnya, bila setiap individu memahami ajaran Tri Kaya Parisudha ini serta mengimplementasikan dalam kesehariannya, maka suasana kedamaian niscaya akan terwujud. Tidak akan ada lagi polemik yang terjadi akibat ketersinggungan antar pihak-pihak tertentu. Ia pun meyakini konsep ini bersifat universal sehingga umat mana pun dapat menjadikannya pedoman dalam berkehidupan.

 

Menanggapi dengan Kepala Dingin

Umat Hindu di Bali menempati posisi yang unik. Di satu sisi menjadi minoritas dalam suatu wilayah kenegaraan. Namun di saat yang bersamaan menjadi mayoritas yang eksis di pulau yang telah ditempati sejak masa kehidupan leluhur mereka. Hal itu menjadikan Umat Hindu Bali memiliki dua perspektif dalam menghadapi kehidupan masyarakat yang heterogen tersebut.

Adnyana bersyukur, Orang Bali memiliki karakter tidak suka menanggapi polemik tentang keagamaan secara berlebihan. Menurutnya kontrol diri dalam menghadapi isu yang terjadi setidaknya mampu meredam konflik dengan cepat. Meskipun beberapa kali cara pandang dalam berkeyakinan umat Hindu Bali diasosiakan negatif oleh golongan inteloran, namun hal itu tidak memunculkan pernyataan sikap berlebihan dalam diri orang Bali.

“Mari kita lebih bijaksana menanggapi serangan-serangan dari pihak yang tidak mau menghargai perbedaan. Khususnya untuk generasi muda Hindu saat ini, tidak usah menceburkan diri dalam pusaran konflik antar agama. Silakan diambil saja pengetahuan positif dari ujaran yang dilontarkan tentang diri kita,” kata pria kelahiran Denpasar, 7 Februari 1966 ini.

Menanggapi dengan kepala dingin setiap ujaran negatif tentang orang Hindu Bali, didapat Adnyana dari pengalamannya memandang Bali dari perspektif yang berbeda. Praktisi pariwisata ini dahulu pernah melanglang buana ke luar negeri sebagai pekerja, sehingga dirinya mendapat pengalaman berinteraksi dengan masyarakat global. Suasana keberagaman yang ada di dunia internasional persis yang terjadi di Bali. Hanya saja yang membedakan adalah kultur di Bali yang tidak dapat ditemukan di tempat lainnya.

“Sebagai Orang Bali yang pernah melihat Bali dari mata internasional, saya bersyukur dengan seni, budaya, adat, dan agama yang kita miliki. Budaya kita betul-betul unik dan hanya ada di Bali. Seharusnya kita sebagai Orang Bali lebih terpacu untuk melestarikan apa yang sudah diwariskan kepada kita oleh para leluhur,” tegas ayah dua anak ini.

Upaya melestarikan seni dan budaya di Bali menjadi salah satu fokus perhatian Adnyana sebagai salah satu tokoh di masyarakat. Pria yang dipercaya lingkungan Yangbatu Kauh menjadi Kelian Banjar Adat ini sangat mendukung aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan pelestarian seni dan budaya. Misalnya saja pelatihan tari dan tabuh yang digalakkan di kalangan anak muda.

Hanya saja tantangan yang dihadapi adalah kurangnya fasilitas untuk memfasilitasi masyakarat. Ia mengakui selama ini agak sulit mendapatkan akses bantuan utamanya dari stakeholder terkait. Tidak hanya fasilitas mendukung kegiatan berkesenian tapi juga fasilitas publik lainnya.

Keinginan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, khususnya yang ada di lingkungan Desa Adat Yangbatu, memotivasi Adnyana untuk bergerak melalui jalur politik. Menurutnya, politik adalah wadah yang tepat untuk memperjuangkan harapan di masyarakat. Politik hanya akan menjadi buruk apabila individu yang melakoninya memiliki tujuan untuk kepentingan pribadinya saja tanpa memikirkan dampak bagi masyarakat luas.

Calon Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat (Caleg DPRD)Kota Denpasar Dapil 4 ini berharap dengan perjuangannya ini ia dapat mewujudkan aspirasi masyarakat dari berbagai kalangan. Terlepas dari apakah kalangan masyarakat itu memilihnya atau tidak ia akan menjalankan peran dan fungsinya sesuai koridor hukum yang berlaku.

Leave a Comment