• 0821 4595 6878

15 Mar

Siapa tidak mengenal keindahan tari-tarian yang berasal dari Bali. Dunia pun mengapresiasi keunikan kesenian Bali ini. Terbukti 9 jenis tarian di Bali mendapat pengakuan dari organisasi UNESCO sebagai warisan dunia tak benda. Menurut pegiat seni tari di Bali yakni Ni Putu Ariani, S.Pd., sudah semestinya anak muda di Bali melanjutkan estafet pelestarian warisan budaya kita yang telah diakui dunia tersebut. Putri kebanggan daerah Bali ini siap membina kalangan muda di Bali untuk mempelajari khasanah tari yang telah diwariskan turun temurun.

Keterpanggilan hati untuk mengajak generasi muda Bali mencintai warisan seni dan budaya berangkat dari latar belakang Ni Putu Ariani yang merupakan penari. Seniman ini telah malah melintang di dunia seni tari dan karawitan Bali baik sebagai penari maupun pendidik. Kontribusinya dalam mengangkat potensi anak-anak muda hingga tak terhitung para penari berbakat terlahir dari pengajarannya. Semua itu dilakukan sebagai bentuk ungkapan yadnya (pengorbanan tulus ikhlas) sekaligus pengabdiannya di masyarakat.

Mengajar Tari

Jiwa seni telah mendarah daging dalam diri Putu Ariani sejak ia memasuki kanak-kanak. Meski orangtuanya bukan merupakan seniman, namun mereka mendukung  untuk menggali potensi tersembunyi dalam dirinya. Benar saja, setelah dilatih lewat Kelompok Kesenian Sekahaa Gong Sad Merta, maka semakin bersinar bakatnya dalam hal menari. Lewat sanggar itu pula, Ariani kerap berkesempatan pentas di berbagai tempat. Terutama di hotel-hotel yang ingin menyuguhkan tari Bali kepada tamu mereka.

Setelah memasuki masa berumah tangga, ia tidak memendam bakatnya tersebut. Justru saat itulah momentum awal ia mengeksplorasi bakat seninya itu. Kemampuan dalam menari itu ia tularkan pada anak-anak yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Perempuan kelahiran Denpasar, 10 Januari 1957 dengan giat melatih tari untuk anak-anak di desanya. Tujuan Putu Ariani saat itu sederhana. Ia ingin anak-anak tersebut mempergunakan waktu senggang mereka untuk kegiatan kreatif. Hal itu sejalan pula dengan misi Ariani menumbuhkan rasa cinta terhadap seni warisan para leluhur.

Upayanya dalam melatih bibit-bibit berbakat di usia anak-anak ini pun diapresiasi oleh masyarakat sekitar. Mereka tidak lagi mencari penari keluar desa untuk mementaskan tari dalam kegiatan keagamaan. Secara rutin para siswa didikan Ariani tampil di muka masyarakat pada saat piodalan dilaksanakan di Pura Dalem. Kebahagiaan yang terpancar dari anak didiknya serta rasa bangga para orangtua membayar semua kerja kerasnya mengajar tari selama ini.

Dukungan dari keluarga, terutama dari suami (almarhum) dan anak-anak, adalah bahan bakar penyemangat bagi Putu Ariani tatkala aktif dalam berbagai kegiatan. Apalagi keluarga Sang Suami merupakan keluarga seniman, membuat Ariani semakin termotivasi menjalankan misi pelestarian seni tari.

“Lingkungan keluarga saya memang terdiri dari kalangan seniman, baik seni tari maupun tabuh. Bahkan kami memiliki wadah pecinta seni tari Arja Muani bernama Printing Mas. Kelompok Arja Muani ini sudah dikenal masyarakat luas dan sering pentas ke seluruh daerah di Bali,” tutur Ariani.

Perjuangan

Selain mengajar tari di desanya, Putu Ariani yang merupakan mantan PNS ini juga bertugas melatih tari di SD Kartika Udayana. Kemampuannya melatih para penari cilik pun membuatnya dipercaya melatih di skala yang lebih besar. Sejak tahun 1980-an ia telah dipercaya membina kontingen Kota Denpasar yang akan tampil pada Pesta Kesenian Bali. Selain aktif membina generasi muda mempelajari seni tari, Putu Ariani juga aktif dalam kegiatan organisasi. Di antaranya menjadi ketua WHDI (Wanita Hindu Darma Indonesia) Kecamatan Denpasar Timur dan Pengurus WHDI Provinsi Bali Bidang Kebudayaan.

Salah satu pengalaman berkesan yang didapat Putu Ariani selama berkecimpung di dunia seni tari adalah pada saat ditugaskan ke Timor Timur. Ia bertugas menyiapkan penari dan mendampingi mereka untuk mengisi acara jejak pendapat Timtim pada tahun 1999 tersebut. Putu Ariani pada saat itu tidak tahu, dirinya akan mejadi salah satu dari saksi sejarah terlepasnya provinsi itu dari bumi NKRI.

“Suatu pengalaman berkesan bagi saya, apalagi keluarga saya sempat khawatir karena situasi di daerah itu sedang tidak kondusif. Namun saya bertekad akan menjalankan perintah yang telah diamanatkan kepada saya,” ujar Putu Ariani mengenang masa-masa menegangkan itu.

Kini hampir 40 tahun Putu Ariani berkontribusi untuk melestarikan regenerasi seniman tari di Bali. Meski demikian ia mengakui perjuangannya masih jauh dari harapan. Keinginan untuk membangkitkan lagi euforia belajar menari di tingkat banjar menjadi salah satu misi yang ingin diwujudkannya. Maka saat mendapat tawaran kesempatan memperjuangkan misi lewat jalur politik, ia pun siap mencobanya. Ia yakin politik merupakan sarana yang tepat untuk mewujudkan harapan masyarakat asal dijalankan sesuai dengan kaidah norma yang berlaku.

Ni Putu Ariani, S.Pd, srikandi dari partai PDIP ini maju dalam pencalonan legislatif 2019 sebagai Caleg DPRD Denpasar nomor urut 5 di Dapil Kota Denpasar. Ia mantap maju dalam pemilu mendatang meski pun harus berhadapan dengan politisi senior lainnya maupun para incumbent. Sebagai perempuan yang aktif dalam upaya pelestarian seni, ia yakin keterlibatannya nanti di legislatif akan memaksimalkan perjuangan yang sudah dilakukan selama ini. Ia pun berharap dapat membuat regulasi yang dapat  meningkatkan taraf ekonomi para pegiat seni. Agar seniman-seniman ini semakin termotivasi menggalakkan seni yang ada di Bali.

Leave a Comment