• 0821 4595 6878

30 Nov

Membaca rekam jejak sosok Ir. I Gusti Gde Masputra dalam kiprahya sebagai putra Bali yang berkarya di tingkat nasional, tentu menimbulkan derai kekaguman. Pencapaian yang diraihnya merupakan sebuah kebanggaan, sebab tak banyak nama bercirikhas Bali dapat mentereng di kancah nasional. Dedikasinya untuk ikut berperan dalam proses pembangunan nasional membuatnya berpindah tugas dari satu daerah ke daerah lainnya. Namun ia tak pernah meninggalkan identitasnya sebagai Orang Bali yang menjunjung tinggi . Kemana pun ia pergi, Bali senantiasa bersemayam di dalam diri.

Sebuah rangkaian dengan sistem mekanik bernama mesin telah menyita perhatian Gde Masputra selama beberapa puluh tahun lama. Itulah mengapa, Jurusan Teknik Mesin menjadi incarannya tatkala resmi menamatkan sekolah di bangku SMA. Meski pun sempat gagal mengikuti tes seleksi ujian masuk perguruan tinggi di ITB maupun UGM. Ia tetap bersikeras menyongsong seleksi masuk pada jurusan yang sama namun di perguruan tinggi yang berbeda, yakni Intitut Teknologi Sepuluh November atau akrab dengan nama ITS Surabaya. Berkat restu Ida Sang Hyang Widi Wasa, ia pun diterima dan resmi menjadi mahasiswa teknik mesin.

Lewat keputusannya menimba ilmu di bidang tersebut, pria kelahiran Denpasar, 10 Agustus 1945 itu berharap kelak dapat mengaplikasikan ilmunya itu untuk kemajuan bangsa. Ia mengembangkan asa, dapat berperan memajukan industri raksasa di industri yang mengandalkan teknologi mesin canggih layaknya industri di negara maju seperti Jepang, Amerika dan Benua Eropa. Langkahnya tidak main-main, putra dari bangsawan Puri Tainsiat bernama Anak Agung Putu Gde Kuntri, buah pernikahan dengan Jro Cenaga ini, getol melahap bacaan mengenai pengetahuan teknik mesin. Bahkan tak sedikit buku-buku import yang dibacanya, notabene merupakan bacaan berbahasa asing.

Dalam kurun waktu 3 tahun saja, ia berhasil menyelesaikan perkuliahannya, tepatnya pada tahun 1970. Hal ini merupakan prestasi tersendiri sebab ada sebuah apriori bahwa tak banyak mahasiswa teknik yang dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu. Apalagi bisa menuntaskannya lebih awal. Setamatnya kuliah dan resmi menyandang gelar insinyur, Gde Masputra langsung terjun ke dunia kerja bertepatan dengan diterimanya ia di PT . Caltex Pacific Indonesia. Pada saat hampir berdekatan, Gde Masputra juga berhasil mempersunting wanita pujaan hati bernama Anak Agung Ayu Purniathi.

Kemampuannya dalam bekerja membuatnya diapresiasi, segera saja ia menerima sebuah jabatan sebagai inspektor. Tugasnya menginspeksi kilang minyak Pertamina di Cepu, Jawa Timur. Sehingga ia memboyong serta Sang Istri ke tanah rantau. Tiga bulan kemudian, Gde Masputra dipercaya mejadi project engineer dimana ia bertugas menangani proyek-proyek pembanguan mesin industri, sesuai dengan basic keilmuannya. Kemampuannya dalam menangani proyek, membuat putra kelima dari 11 bersaudara ini mendapat kesempatan bertugas ke Eropa, tepatnya di tahun 1975.

Dalam kesempatan itu, tak sedikit investor dari negara asing menawarkan posisi bonafit di perusahaan mereka dengan gaji ribuan dollar. Sebuah peluang yang jarang menghampiri putra-putra Bangsa Indonesia. Namun tawaran itu ditolak oleh Gde Maputra. Tekadnya hanya satu, yakni mendedikasikan kemampuannya hanya pada tanah air tercinta.

Tak terhitung pengalaman kerja yang telah dirajut seorang Gde Masputra dengan penuh ketekunan dan  didasari sikap kerja keras. Beberapa kali pula ia dipindah tugaskan demi menjawab kebutuhan seorang profesional di bidang mesin di berbagai daerah. Bahkan ia pernah menduduki jabatan Kepala Pertamina Asia Timur yang berkedudukan di Tokyo, Jepang. Jabatan Elit lainnya yaitu sebagai pemimpin perusahaan produsen LNG terbesar di dunia.

Tak Lupakan Identitas

 

Pada tahun 1984, Gde Masputra telah menjabat sebagai Manager Pemeliharaan Kilang Minyak di Balikpapan. Pada titik tersebut, ia sudah dapat dikatakan sukses secara finansial. Tabungan uang yag dimilikinya sering digunakan untuk berinvestasi di bidang properti. Selain membeli berhektar-hektar tanah yang dulunya dimiliki oleh leluhurnya sendiri, ia juga menginvestasikan dana dalam pembangunan sebuah hotel di Kuta bernama Bali Niksoma. Pengelolaan hotel 14 kamar tersebut diserahkan kepada Sang Adik tercinta, sehingga Gde Masputra sendiri dapat berkonsentrasi dalam karir. Serta dapat mendedikasikan diri dalam berbagai kegiatan sosial seperti misalnya membangun sekolah-sekolah demi menciptakan pendidikan nasional nan gemilang.

Meski hidup di perantauan namun tak serta merta Gde Masputra melupakan jati diri sebagai Umat Hindu Bali. Tak ada istilah absen menghaturkan bakti kepada Sang Maha Pencipta. Sebab ia percaya bahwa Tuhan berada di mana saja, bahkan berstana di semua unsur-unsur alam semesta. Sudah menjadi kewajiban Umat Hindu memaknai dirinya dan makhluk hidup lainnya sebagai percikan kecil dari Sang Maha Besar, yakni Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sehingga mencintai dan menghormati sesama sama seperti menghormati diri sendiri. Sehingga bila dirangkum seluruh pemikiran itu akan bermuara pada ajaran Tri Hita Karana, yakni menjaga hubungan baik dengan Tuhan, dengan sesama makhluk ciptaan Beliau, dan harmonisasi dengan lingkungan sekitar.

Gde Masputra senantiasa berupaya memaknai dan mengaplikasi ajaran Tri Hita Karana dengan sebaik-baiknya dimana pun kakinya berpijak, hal ini terbukti ketika ia melibatkan diri dalam pembangunan tempat suci bagi umat Hindu di daerah tempat ia meratau. Sebelumnya tidak mudah menemukan Pura di Kalimantan. Maka pengajuan proposal untuk membuat Pura Giri Jagat Natha Balikpapan terus diupayakan. Namun penyetujuan proposal itu terkesan lama dan tersendat-sendat. Melihat situasi itu, Gde Masputra bersedia datang langsung ke Jakarta untuk menemui Kepala Urusan Bantuan Presiden (BANPRES). Tidak sia-sia perjuangan umat Hindu di Balikpapan sebab Gde Masputra datang membawa kabar baik bahwa dana bantuan pembangunan pura tersebut siap untuk dikucurkan.

Proses pembagunan pura itu sendiri memberikan kesan mendalam bagi seorang Gde Masputra. Selain dana bantuan yang didapat terbilang paling banyak dari dana pembangunan tempat suci agama lain di Kota Balikpapan, ia juga berhasil memberikan sentuhan gaya Bali pada pura tersebut. Sebab ia mendatangkan undagi (tukang spesialis arsitektur Bali) langsung dari Ubud. Setelah bangunan itu diresmikan secara sekala dan niskala, maka berdirilah pura kebanggan Umat Hindu di Balikpapan tersebut.

Kiprahnya dalam kegiatan spiritual keagamaan tak berhenti sampai disitu. Ia juga pernah terlibat dalam pembangunan tempat persembahyangan Umat Hindu di Bontang. Dalam kesempatan lain ia juga pernah diundang mengikuti upacara peresmian Pura Umat Hindu di Kutai. Pengalaman ini meyimpan sebuah kisah tersendiri yang tidak akan perah dilupakan Gde Masputra. Kala itu ia mesti hadir sebagai wakil dari tokoh-tokoh yang meletakkan batu pertama dalam upacara ‘Ngenteg Linggih’ sebelum pura itu rampung dibangun. Padahal di waktu bersamaan ia juga harus menerima kunjungan Komisi VIII DPR RI. Kehadiran Gde Masputra begitu dinantikan, bahkan Gubernur Kalimantan Timur pun meneleponnya untuk meminta kesediaannya hadir di acara itu.

Melihat antusiasme warga Kaltim, Gde Masputra menceritakan situasinya kepada Ketua Komisi. Syukurnya Anggota DPR itu memahami keadaan Gde Masputra sehingga mengijinkannya bertolak ke Kutai pada saat itu juga. Syukur Gde Masputra tiba di Pura tepat waktu sehingga peresmian Pura yang dihadiri perwakilan Umat Hindu dari seluruh Indonesia serta pejabat-pejabat penting itu dapat berlangsung hidmat.

Kini di usianya yang hampir mendekati angka 72, Gde Masputra tinggal menikmati hasil dari kerja kerasnya selama ini. Ia berharap nantinya akan banyak putra-putra kebanggan Bali yang mampu berkiprah di kancah nasional, bahkan dapat melampaui dirinya. Namun lebih dari itu semua, ia menginginkan generasi muda Bali untuk tidak melupakan jati diri sebagai Orang Bali yang lekat dengan religius.

Leave a Comment