• +62 81999600007

12 Apr

Keberhasilan tidaklah diraih dengan gampang, tetapi dirangkai melalui sebuah proses perjuangan yang panjang dari masa ke masa. ’’saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih; anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk” Dari satu sloka tersebut jelas bahwa Manusia saja diciptakan melalui Yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan Yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. Hyang Widhi akan merajut potongan-potongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta, tulus dan ikhlas. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. Dedikasi itulah yang dilakukan I Wayan Winada dalam hal perkembangan pariwisata Bali.

Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas Jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan Brahman dapat tercapai. Setiap manusia memiliki utang kehidupan atau jiwa kepada Tuhan, hutang pengetahuan kepada para orang suci dan hutang budhi atau jasa kepada orang tua dan leluhur. Pada umumnya lontar tatwa ataupun yadnya secara langsung maupun tidak langsung sudah pasti tersirat atau bahkan tersurat di dalam lontar tersebut mengenai aspek-aspek ke-Tuhanan dalam agama Hindu. Agama Hindu meyakini bahwa tuhan itu tunggal tiada duanya. Tuhan yang satu itu disebut dengan banyak nama dan bentuk oleh orang bijaksana. Tuhan yang tunggal dikenal dalam berbagai macam aspek Beliau. Aspek ketuhanan dalam agama Hindu sangatlah benar – benar memposisikan Tuhan sebagai sesuatu Yang Maha Kuasa. Dalam konsep Hindu diyakini bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Sumber dari segalanya. Tuhan meresapi segala ciptaanNya. Tuhan bersifat Sarva Vyapi Vyapaka artinya Tuhan ada dimana-mana dan meresapi semua atau segala sesuatunya.Tuhan yang maha kuasa dan tak terbatas tidaklah mampu dijangkau oleh manusia dengan yang notabenenya memiliki keterbatasan dalam berbagai hal. Dengan keyakinan bahwaTuhan Maha kuasa, maka manusia Hindu meyakini apapun yang beliau kehendaki dapat diwujudkan atau dalam pengertian Beliau dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk sesuai dengan kehendakNya. Sebagai yang maha kuasa tentunya Beliau memiliki fungsi yang sangat tak terbatas.

Sebagai anak petani, Winada banyak menghabiskan masa kecilnya dengan membantu kedua orang tuanya saat bekerja di ladang dan sawah, hingga anggota tubuhnya berlepotan lumpur dan merasakan betapa panasnya terik matahari. Ibunya mengajarkan kesederhanaan, sehingga nyaris tidak ada waktu terbuang percuma. Kesederhanaan yang di ajarkan ibunya menjadi prinsip dasar ajaran Karma Yoga atau prinsip bekerja menurut Hindu, yakni bagaimana umat Hindu menjalani hidup yang semestinya dan memenuhi segala kebutuhan hidupnya agar hidup di dunia secara sejahtera (Jagadhita) dan menikmati kebahagiaan. Di tengah-tengah rutinitas hidup yang begitu padat, muncul suatu pemahaman akan pentingnya pendidikan, sehingga Winada menginginkan dirinya dapat melanjutkan pendidikan sebagaimana anak-anak seusianya dalam menempuh masa-masa bersekolah.

Setelah menamatkan pendidian SMA, dan sempat melamar pekerjaan di RRI (radio republik indonesia) namun hal tersebut gagal, Ia harus melangsungkan pernikahan dengan gadis pilihan yang telah diajaknya memadu cinta selama tiga tahun dan pada 4 Januari 1970 secara resmi menjadi suami sah dari Ni Komang Winari. Awalnya, Winada sempat deg-degan menapaki hidup berumah tangga dengan status menganggur. Namun Winari yang telah resmi menjadi istri Winada, menjadi motivator yang membangkitkan semangatnya, agar hidup jangan disia-siakan, bahkan harus dimaknai. Hidup yang seperti rakit terombang-ambing di samudera luas semestinya dianggap tantangan yangharus dihadapi dengan kebersamaan, solidaritas dan saling pengertian. Tanpa lupa berdoa terus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, jalan akhirnya terbuka. Awalnya sebesar lubang semut, namun ketika ditelusuri ternyata sebuah jalan raya yang di kanan-kiri tumbuh kembang-kembang harum beraroma kesuksesan

Sejak awal tahun 1970’an, tanpa pernah dibayangkan sebelumnya, Winada terjun ke dunia pariwisata. Bermula sebagai guide freelance, kemudian lulus sebagai Licensed Grade saat PATA Travel Mart 1974 dan sejak tahun itu pula Winada beralih menjadi guide berbahasa Jepang. Untuk membantu Winada mencari nafkah, Ni Komang Winari menjual kain dengan sistem kredit. Selain itu, dengan mencoba bisnis sampingan berupa usaha pabrik tegel, ia juga membeli tiga mobil untuk angkutan wisata dan usaha rumah makan di kawasan Kuta, serta membuka usaha penukaran uang atau Money Changer yang pengelolaannya dipercayakan kepada istrinya, Komang Winari.

Meskipun tidak semua bisnis yang dikelola sukses, namun setidak-tidaknya dari usaha banting tulang tersebut, keluarga Winada berhasil memasuki kondisi mapan, tetapi tidak lupa pula dengan selalu berterima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hyang Widhi tidak menghapus harapan setiap orang yang melaksanakan yadnya menurut cara dan kepercayaannya masing-masing. Dan tahun 1975 mencoba membeli sebidang tanah di kawasan Kuta, yang pada waktu masih minim dikunjungi wisatawan dibanding kawasan Sanur, sehingga tanah yang dibelinya tidak semahal harga tanah di Sanur. Di atas tanah tersebut dia bangun rumah peristirahatan dan tanpa diduga rumah yang selesai tahun 1976 tersebut banyak diincar para wisatawan asing yang ingin menginap di sana. Melihat peluang itu, pada tahun 1978 Winada kembali membangun delapan kamar di atas lahan yang tersisa dan semua bangunan tersebut dioperasikan sebagai penginapan pada 10 Agustus 1978, dengan nama Wina Cottage, dan mengangkat enam karyawan untuk membantu pengoperasian penginapannya. Atas prakarsa Winada pula, pemerintah kemudian mulai membangun jalan raya di Kuta sebagai respon atas pertumbuhan pariwisata Kuta.

Selanjutnya Winada terus-menerus menambah jumlah kamarnya, karena minat wisatawan untuk menginap di penginapannya kian tahun semakin bertambah seiring pembangunan yang dilakukan pemerintah di wilayah Kuta. Pada tahun 1980, Winada telah memiliki 36 kamar. Karena kesuksesan terus menerus mengitarinya, pada tahun 1983 ia melirik sebidang tanah seluas 26 are yang berlokasi di sebelah penginapannya dan dibeli dengan uang pinjaman dari bank. Herannya, dalam waktu tiga bulan, dia berhasil melunasi utangnya di bank, sebaliknya berhasil membangun tambahan kamar sebanyak 65 buah. Kembali karena tidak puas dan merasa jumlah kamar yang dimilikinya belum mampu mengimbangi animo wisatawan untuk menginap di tempatnya, ia kembali membeli tanah milik Desa Sanur yang berada dekat penginapannya seluas 21,5 are dan segera membangun di atasnya. Hingga tahun 1987, Wina Cottage telah memiliki 127 kamar dengan jumlah karyawan sebanyak 110 orang.

Karena usaha penginapannya memerlukan perhatian lebih serius, dengan berat hati Winada meninggalkan profesinya sebagai guide, selanjutnya berkonsentrasi pada usaha penginapan. Pada tahun 1990, untuk menyambut seruan Direktorat Jenderal Pariwisata “Visit Indonesia Year 1991” yang juga menyarankan agar hotel-hotel di Bali menambah jumlah kamar sebanyak-banyaknya, Winada menjalin kerja sama dengan sebuah penginapan untuk menambah bangunan atas naungan Hotel Wina. Sayang, setelah bangunan rampung dan menjadi 184 kamar, ternyata “mimpi indah” tentang kedatangan wisatawan tahun 1991 berubah menjadi “mimpi buruk” akibat meletusnya Perang Teluk. Dampak dari perang itu, menimbulkan kelesuan bisnis perhotelah di Bali yang berlangsung sejak tahun 1991-1993. Syukur, Tuhan masih berpihak pada Winada, sehingga Hotel Wina tetap survive, meski banyak hotel lain gulung tikar. Seperti senandung Chrisye, “Tak selamanya, mendung itu kelabu”, memasuki tahun 1994 kondisi pariwisata mulai menggairahkan di Bali. Jumlah wisatawan kian bertambah, termasuk yang menginap di Hotel Wina. Mengantisipasi perkembangan tersebut, Winada kembali melakukan renovasi terhadap bangunan hotelnya, juga membangun kamar berklasifikasi “Super Delux dan Junior Sweet” untuk wisatawan berkantong lebih mampu, semua itu demi memuaskan para wisatawan untuk selalu mengingat Hotel Wina sebagai tempat menginap yang nyaman saat liburan ke Bali.

Berjalannya waktu demi waktu telah semakin mendewasakan dan mematangkan Hotel Wina sebagai hotel yang selalu mengikuti arah zaman agar tidak ketinggalan dengan pesaingnya dan tetap menjadi tujuan wisatawan untuk menginap dan menikmati liburan selama berada di Bali. Melewati berbagai macam asam garam kehidupan membuat Winada tak akan pernah melupakan masa lalu yang merupakan cerminan memori perjuangannya dalam membangun usaha yang ternyata dapat berbuah manis dan harum kesuksesan semerbak selalu terasa sampai ke generasi selanjutnya. Winada tetap memegang teguh keyakinannya bahwa hotel Wina miliknya akan tetap berjaya jika pengelolaannya sesuai, tepat dan benar.

I Wayan Winada menyadari bahwa apa yang ia capai saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga ia pun tak lupa berbagi pada sesama sebagai bentuk bakti hidup dan rasa syukurnya. Baginya keharmonisan hubungan dengan Tuhan, Alam, dan sesama dalam hidup tidak boleh ditinggalkan begitu saja, meski zaman terus mengalami kemajuan dan perubahan. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. Perlu kedisiplinan dan keihklasan dalam menjalaninya. Satu-satunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari, memahami dan melaksanakan Yadnya. Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Terlebih Yadnya dalam bentuk ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang.

Leave a Comment