• +62 81999600007

07 Apr

Kewangen berasal dari bahasa jawa kuno yaitu kata “Wangi” yang artinya harum. Mendapat awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’ menjadi kewangian disandikan menjadi kewangen artinya keharuman yang berfungsi untuk mengharumkan nama Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kewangen digunakan sebagai pelengkap upakara/bebantenan. Kewangen paling biasanya digunakan dalam upacara persembahyangan. Selain itu juga sebagai pelengkap dalam upakara untuk upacara Panca Yadnya. Sarana untuk membuat kewangen :

1. Kojong, dibuat dari selembar daun pisang yang berbentuk segitiga lancip melambangkan Ardacandra.

2. Pelawa, potongan daun kayu seperti andong, pandan harum, puring, dan lain sejenisnya yang berwarna hijau lambang ketenangan.

3. Porosan, dibuat dari dua lembar daun sirih digulung dengan posisi menengadah satu, telungkup satu, disatukan. Ini disebut porosan silih asih lambang hubungan timbal balik antara baktinya umat manusia dengan kasih Ida Sang Hyang Widhi.

4. Kembang Payas, berbentuk cili, dibuat dari serangkaian jejahitan janur yang sudah diringgit/dibentuk. Melambangkan nada, reringgitan melambangkan rasa ketulusan hati.

5. Bunga, yaitu bunga hidup yang masih segar dan berbau harum/wangi melambangkan kesegaran dan kesucian pikiran dalam beryadnya.

6. Uang kepeng logam dua buah melambangkan Windu, uangnya melambangkan sesar/sarining manah. Selain itu uang berfungsi sebagi penebus segala kekurangan yang ada.

Ketika melakukan persembahyangan umat melakukan berbagai macam cara dalam menggunakan kewangen, terutama posisinya. Ada yang uang kepeng sebagai bagian depannya  menghadap kearah yang dihaturkan persembahan, ada yang menghadap kekiri/kekanan, ada pula yang menghadap kepada orang yang melakukan persembahyangan. Pemakaian Kewangen yang benar (menurut lontar paniti gama tirtha pawitra) adalah uang kepengnya menghadap ke orang yang sembahyang tersebut.

Leave a Comment